Selasa, 09 Februari 2010

KUNCI KEBAHAGIAAN

0 Komentar

Bismillaah, walhamdulillaah, wash sholaatu wassalaamu alaa rosuulillaah, wa alaa aalihii wa shohbihii wa man waalaah…

Menindak lanjuti anjuran Syeikh Abdur Rozzaq -hafizhohulloh- dalam tabligh akbarnya -(di Masjid Istiqlal 1 Shofar 1431 / 17 Januari 2010)- untuk menyebarkan uraian Ibnul Qoyyim tentang kunci kebahagiaan, maka pada kesempatan ini, kami berusaha menerjemahkannya untuk para pembaca, semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua…


SEBAB-SEBAB LAPANGNYA DADA

(1) Sebab utama lapangnya dada adalah: TAUHID.

Seperti apa kesempurnaan, kekuatan, dan bertambahnya tauhid seseorang, seperti itu pula kelapangan dadanya. Alloh ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {أَفَمَن شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّنْ رَبِّه} [الزمر: 22].

Apakah orang yang dibukakan hatinya oleh Alloh untuk menerima Islam, yang oleh karenanya dia mendapat cahaya dari Tuhannya, (sama dengan orang yang hatinya membatu?!)

Alloh juga berfirman:

وقال تعالى: {فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلاَمِ، وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاءِ} [الأنعام: 125].

Barangsiapa dikehendaki Alloh mendapat hidayah, maka Dia akan membukakan hatinya untuk menerima Islam. Sedang barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, maka Dia akan jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit.

Maka, petunjuk dan tauhid adalah sebab utama lapangnya dada. Sebaliknya syirik dan kesesatan, adalah sebab utama sempit dan gundahnya dada.

(2) Diantara sebab lapangnya dada adalah: Cahaya yang ditanamkan Alloh ke dalam hati hamba-Nya, yakni CAHAYA IMAN.

Sungguh cahaya itu akan melapangkan dan meluaskan dada, serta membahagiakan hati. Apabila cahaya ini hilang dari hati seorang hamba, maka hati itu akan menjadi ciut dan gundah, sehingga menjadikannya berada dalam penjara yang paling sempit dan sulit.

At-Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Jami’nya, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Jika cahaya (iman) itu masuk ke dalam hati, maka ia akan menjadi luas dan lapang”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rosululloh, lalu apa tanda-tandanya?” Beliau menjawab: “(Tandanya adalah jika hatinya menginginkan) kembali ke rumah keabadian, menjauh dari rumah kepalsuan, dan bersiap-siap menghadapi kematian sebelum ia datang”.

Maka, seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dadanya, sesuai bagiannya dari cahaya (iman) ini. Hal ini menyerupai cahaya dan kegelapan yang kasat mata, karena cahaya dapat melapangkan hati, sedang kegelapan bisa menciutkannya.

(3) Diantaranya lagi adalah: ILMU.

Ilmu akan melapangkan dada dan meluaskannya, hingga ia bisa menjadikannya lebih luas dari dunia. Sebaliknya kebodohan bisa menjadikan hati ciut, terkepung, dan terpenjara. Semakin luas ilmu seorang hamba, maka semakin lapang dan luas pula dadanya. Tentu, hal ini tidak berlaku untuk semua ilmu, akan tetapi hanya untuk ilmu yang diwariskan dari Rosul -shollallohu alaihi wasallam, yakni ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu, ahli ilmu menjadi orang yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling bagus akhlaknya, dan paling baik hidupnya.

(4) Diantaranya lagi adalah: Kembali kepada Alloh ta’ala, mencintai-Nya sepenuh hati, menghadap pada-Nya, dan mencari kenikmatan dalam mengibadahi-Nya. Karena, tidak ada sesuatu pun yang lebih mampu melapangkan dada seorang hamba melebihi itu semua, hingga kadang hati itu mengatakan: “Seandainya di dalam surga nanti, keadaanku seperti ini, maka sungguh itu berarti aku dalam kehidupan yang baik”.

Sungguh kecintaan itu memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dada, membaikkan jiwa, dan menikmatkan hati. Tidak ada yang tahu hal itu, kecuali orang yang pernah merasakannya. Dan ketika cinta itu semakin kuat dan hebat, maka saat itu pula dada menjadi semakin luas dan lapang.

Dan hati ini tidak akan menciut, kecuali saat melihat para pengangguran yang kosong dari hal ini. Sungguh melihat mereka hanya akan mengotorkan mata hati, dan berkumpul dengan mereka hanya akan membuat gerah jiwa.

Diantara sebab utama ciutnya dada adalah: Berpalingnya hati dari Alloh ta’ala, bergantungnya hati pada selain-Nya, lalainya hati dari mengingat-Nya, dan kecintaan hati pada selain-Nya.

Karena, barangsiapa mencintai sesuatu selain Alloh, niscaya ia akan disiksa dengannya, dan hatinya akan terpenjara oleh kecintaannya pada sesuatu tersebut.

Sehingga tiada orang di muka bumi ini, yang lebih sengsara, lebih penat, lebih buruk, dan lebih payah hidupnya melebihinya.

Maka, di sini ada dua cinta:

(a) Cinta yang merupakan: surga dunia, kebahagiaan jiwa, dan kelezatan hati. Cinta yang merupakan kenikmatan, santapan, dan obatnya ruh. Bahkan dialah kehidupan ruh dan sesuatu yang paling disenanginya. Dialah cinta kepada Alloh semata dengan sepenuh hati, dan tertariknya semua kesenangan, keinginan, dan kecintaan hati hanya kepada-Nya.

(b) Dan cinta yang merupakan: siksaan ruh, kegundahan jiwa, penjara hati, dan sempitnya dada. Dialah sebab sakit, susah, dan beratnya jiwa. Itulah kecintaan kepada selain Alloh subhanahu wa ta’ala.

(5) Diantara sebab-sebab lapangnya dada adalah: Melanggengkan dzikir (mengingat)-Nya di segala tempat dan masa. Karena, dzikir itu memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dada dan menikmatkan hati. Sebaliknya, lalai memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menciutkan, memenjarakan, dan menyiksa hati seorang hamba.

(6) Diantaranya lagi adalah: Membantu orang lain, dan memberikan manfaat kepada mereka, dengan apa yang ia mampui, dari hartanya, kedudukannya, badannya, dan berbagai macam kebaikan untuk orang lain.

Oleh karena itu, orang yang dermawan dan punya banyak jasa, adalah orang yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya, dan paling nikmat hatinya. Sedangkan si bakhil yang tidak punya jasa baik, adalah orang yang paling sempit dadanya, paling buruk hidupnya, dan paling banyak gundah gulananya.

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah memberikan perumpamaan untuk si bakhil dan sang dermawan dalam sebuah hadits shohih (riwayat Muslim: 1021), yaitu: Seperti dua orang yang mempunyai baju perang dari besi. Setiap kali sang dermawan ingin bersedekah, baju besi itu menjadi tambah luas dan lebar, hingga ia menyeret bajunya dan menjadi panjang jejaknya. Sedangkan si bakhil, setiap kali ingin bersedekah, maka semua lingkaran rantai (yang menjadi penghubung rangkaian baju besi) itu menetapi tempatnya, dan tidak melebar hingga tidak cukup untuknya.

Maka, inilah perumpamaan lapang dan luasnya dada seorang mukmin yang dermawan, dan ini pula perumpamaan ciut dan sempitnya dada si bakhil.

(7) Dan diantaranya lagi adalah: Keberanian.

Makanya seorang pemberani adalah seorang yang lapang dadanya, serta luas jiwa dan hatinya.

Sedangkan pengecut, adalah seorang yang paling ciut dadanya, dan paling terbatas hatinya. Ia tidak memiliki kesenangan dan kebahagiaan. Ia juga tidak memiliki kenikmatan, kecuali kenikmatan yang dirasakan oleh hewan saja.

Adapun kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan, dan kesenangan jiwa, maka itu tidak akan diberikan kepada mereka yang pengecut, sebagaimana ia tidak diberikan kepada mereka yang bakhil, dan mereka yang berpaling dari Alloh subhanah, lalai dari mengingat-Nya, jahil dengan-Nya, dengan nama-namaNya, dengan sifat-sifatNya, dan dengan agama-Nya, serta hatinya tergantung dengan selain-Nya.

Sungguh kenikmatan dan kebahagiaan ini, akan menjadi taman dan surga di alam kubur nanti. Sebaliknya keciutan dan kesempitan hati mereka, akan menjadi siksaan dan penjara di alam kuburnya.

Maka, keadaan hamba di alam kubur nanti, itu seperti keadaan hati di dalam dada, baik dalam hal kenikmatan, siksaan, kebebasan, maupun terpenjaranya.

Dan bukan patokan, bila ada kelapangan hati bagi si ini, dan keciutan hati bagi si itu, karena adanya sesuatu yang datang. Karena ia akan hilang dengan hilangnya sesuatu yang datang itu. Akan tetapi yang menjadi patokan adalah sifat yang menancap di hati, yang dapat membuatnya lapang atau ciut. Itulah timbangannya… Wallohul musta’an.

(8) Diantaranya lagi -bahkan ini salah satu yang utama- adalah: Membersihkan hati dari kotoran, seperti sifat-sifat tercela yang menyebabkan hati menjadi ciut, tersiksa, dan menghalangi kesehatannya.

Karena, jika sebab-sebab lapangnya hati itu datang kepada seseorang, sedang ia belum mengeluarkan sifat-sifat tercela itu dari hatinya, maka ia tidak akan mendapatkan kelapangan hati yang berarti. Hasil akhirnya adalah adanya dua materi yang memenuhi hatinya, dan hatinya akan dikuasai oleh apa yang lebih banyak menempati hatinya.

(9) Dan diantaranya lagi adalah: Meninggalkan setiap yang berlebihan, baik dalam ucapan, penglihatan, pendengaran, pergaulan, makanan, ataupun tidur. Karena sikap berlebihan dalam ini semua, dapat menyebabkan hati menjadi sakit, gundah, resah, terkepung, terpenjara, ciut, dan tersiksa karenanya. Bahkan kebanyakan siksaam dunia dan akhirat, bersumber darinya.

Maka, laa ilaaha illallooh… betapa ciutnya dada orang yang menyimpan semua penyakit ini, betapa susah hidupnya, betapa buruk keadaannya, dan betapa terkepung hatinya…

Dan Laa ilaaha illallooh… betapa nikmatnya kehidupan seseorang yang dadanya menyimpan semua sifat yang terpuji itu, serta cita-citanya berputar dan mengitari semua sifat itu. Tentulah orang ini memiliki bagian yang agung dari firman Alloh ta’ala:

{إنَّ الأَبْرَارَ لَفِى نَعِيم} [الانفطار: 13]

Sesungguhnya orang yang baik amalannya, berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.

Adapun yang itu, mereka memiliki bagian yang besar dari firman-Nya:

{وإنَّ الفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ} [الانفطار: 14]

Sesungguhnya orang-orang yang buruk amalannya, berada dalam neraka (yang penuh kesengsaraan)

Dan diantara keduanya ada banyak tingkatan yang berbeda-beda, tiada yang dapat menghitungnya, kecuali Alloh tabaaroka wa ta’aala.

Maksud kami (membawakan pembahasan ini adalah agar kita tahu): Bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah makhluk yang paling sempurna dalam semua sifat terpuji yang bisa menjadikan kelapangan dada, keluasan hati, qurrotu ain, dan kehidupan jiwa. Oleh karena itulah, beliau menjadi makhluk yang paling sempurna dalam kelapangan dada, kehidupan hati, dan qurrotu ain. Belum lagi keistimewaan beliau dalam kelapangan hidup yang bisa dilihat mata.

Dan makhluk yang paling sempurna dalam menirunya, dialah makhluk yang paling sempurna dalam kelapangan, kelezatan, dan qurrotu ainnya. Seperti apa seorang hamba dalam meniru beliau, maka seperti itu pula ia akan mendapatkan kelapangan dada, qurrotu ain, dan kelezatan jiwanya.

Maka, beliau -shollallohu alaihi wasallam- adalah orang yang menempati posisi puncak kesempurnaan dari kelapangan dada, kemuliaan nama, dan minimnya dosa. Dan bagi pengikutnya dalam semua itu, ada bagian yang sesuai dengan kadar pengikutannya kepada beliau… wallohul musta’an.

Dan demikian pula (dalam hal lainnya), bagi pengikut beliau, ada bagian dari perlindungan, penjagaan, pembelaan, pemuliaan, pertolongan Alloh untuk mereka, tergantung porsi peneladanan mereka terhadap beliau. Ada yang dapat bagian sedikit, ada juga yang dapat bagian banyak. Maka barangsiapa yang mendapati kebaikan pada dirinya, maka hendaklah ia memuji Alloh. Adapun yang mendapati selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya.

(Bagi yang ingin membaca naskah aslinya dalam bahasa arab, silahkan merujuknya ke kitab Zaadul Ma’aad, karya Ibnul Qoyyim, jilid 2, hal. 23)

Senin, 08 Februari 2010

Muslim Multazim

0 Komentar

Published by Abdullah Hadrami


Muslim Multazim

Nabi dan para shahabat adalah orang orang yang memiliki jiwa militansi sangat tinggi, mereka patut untuk kita jadikan panutan dalam hal iltizam. Apakah pantas orang-orang yang mengikuti jalan mereka selaku umat terbaik justeru dicap negatif sebagaimana diatas?

Definisi iltizam

Iltizam adalah suatu kata yang umum yang menunjukkan makna menetapi dan sungguh-sungguh terhadap syari'at atau selainnya. Akan tetapi dalam konteks dimasa ini lebih cenderung banyak dipakai untuk istilah orang yang berpegang teguh terhadap syari'at dan tamassuk (memegang erat) agama (Islam). Dari sini kita katakan bahwa orang yang bersungguh-sungguh dalam agama (iltizam) adalah seorang Mustaqim (istiqamah/lurus), Almutamassik bisy syari'ah (memegang syari'at), Almuthi' lillah (taat kepada Allah), atau 'amilan bisyari'atillah wa muttabi'an lirasulillah (menjalankan syari'at Allah dan ittiba' kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam ).

Hakikat iltizam

Dari ta'rif diatas maka iltizam pada prinsipnya adalah memegang teguh syari'at, mengamalkannya dan ittiba' kepada sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam , inilah hakikat iltizam. Dan kita akan melihat bahwa seorang yang multazim aktivitas kesehariannya akan berkisar pada amalan-amalan wajib, ataupun sunnah, mungkin juga nawafil (tambahan) dari bentuk-bentuk ibadah dan ketaatan, bisa juga fardhu kifayah yang mampu ia kerjakan. Demikianlah tuntutan yang harus dipenuhi oleh seseorang yang akan memposisikan dirinya sebagai orang yang multazim.

Dalil-dalil iltizam

Dari Al Qur'an


Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (QS Ali Imran : 103)
Dalam konteks ini iltizam bermakna I'tisham yaitu menetapi sesuatu dan berpegang teguh kepadanya.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
"Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus." (QS Al Baqarah: 256).
Di sini iltizam punya arti tamassuk yakni menggenggam sesuatu dengan sangat erat sesuai kemampuan.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Jangan-lah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS. Fushshilat: 30)


"Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita." (QS. Al-Ahqaf: 13)


Dalam dua ayat di atas iltizam memiliki arti istiqamah yaitu jalan yang lurus yang tidak ada kebengkokan dan penyimpangan.

Dalil dari Assunnah
Hadits pertama:
Artinya: "Dari Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafi berkata: aku berkata: "Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang tak akan kutanyakan lagi kepada selain Anda, maka beliau bersabda: "Ucapkanlah aku beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah!" (HR Muslim dalam kitabul iman).

Hadits kedua:
Artinya: "Maka wajib atas kalian semua berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham." (maksud-nya berpegang teguhlah dengan sunnah sekuat tenaga, red) (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ad-Darimi).

Hadits ketiga:
Dari Abdullah ibnu Mas'ud Radhiallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam membuat sebuah garis dengan tangannya, lalu bersabda: "Ini jalan Allah yang lurus," kemudian beliau membuat garis-garis di kanan kirinya lalu bersabda: "Ini adalah jalan-jalan (as subul), tak satupun dari jalan-jalan tersebut kecuali di sana ada syetan yang mengajak kepadanya, kemudian beliau membacakan firman Allah (QS Al An'am ayat 153). (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al Hakim)

Apa yang dilakukan seorang multazim

Seorang yang benar-benar multazim harus melakukan amalan-amalan yang menjadi bukti konkrit atas kesungguhan dan komitmennya terhadap Islam. Diantara yang senantiasa dijalani oleh para multazimin dalam kehidupannya adalah sebagai berikut:

Berpegang dengan As Sunnah

Seorang yang multazim sudah barang tentu harus memegang As Sunnah dengan sungguh-sungguh, atau dengan kata lain adalah seorang ahlus sunnah dan ahlus syari'ah. Dia juga aljama'ah (kelompoknya Nabi dan para shahabat) walau jumlah mereka hanya sedikit.

Giat menuntut ilmu

Muslim yang multazim haruslah selalu menuntut ilmu sehingga ia beribadah kepada Allah diatas dasar cahaya dan hujjah yang jelas, bukan diatas kejahilan dan kesesatan. Masalah ini tidak bisa ditawar-tawar lagi sebab seorang yang iltizam dengan ajaran Islam otomatis akan menjadi da'i yang menyeru ke jalan Allah. Ia akan meng-ajak orang lain untuk beristiqamah, iltizam dan menjalankan syari'at Allah dalam kehidupan. Dengan ilmu (syar'i) inilah ia akan mengajak orang ke jalan Allah dengan berlandaskan hujjah yang terang (bashirah).

Meninggalkan bid'ah, maksiat dan kesia-siaan ( lahwu)

Seorang yang istiqamah harus selalu bersemangat untuk senantiasa melakukan apa-apa yang disyariatkan Allah, belajar dan mengajarkan Islam. Ia selayaknya juga harus berusaha sekuat tenaga menjauhi segala bentuk yang bisa mencoreng harga dirinya, menodai keadilannya dan apa saja yang bisa menuurunkan martabat dan kedudukannya. Hal itu dapat dilakukan dengan cara meninggalkan bid'ah, maksiat dan segala bentuk kesia-siaan.

Berdakwah menyeru ke jalan Allah

Setelah seseorang diberi rahmat oleh Allah berupa kemampuan untuk beriltizam dan beristiqamah maka ia tidak boleh berhenti sampai di sini. Akan tetapi ia masih punya kewajiban yang sangat penting yaitu berdakwah mengajak orang ke jalan Allah. Mengajak siapa saja baik itu saudara, sahabat, teman kerja, keluarga dan siapa saja yang ada di sekelilingnya. Ini merupakan salah satu kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya seiman, sebab jika ia tidak berdakwah kepada kebaikan tentu mereka yang buruk dan sesat akan mengajak kepada keburukan dan kesesatan yang mereka kerjakan. Bukankah kita akan senang jika banyak orang yang mengikuti jejak kebaikan yang kita lakukan?Bukankah kita senang jika banyak orang yang menolong dan membantu kita? Kita juga akan merasa senang jika banyak orang yang senantiasa berbuat kebajikan dan meniti agama yang lurus baik itu kalangan pemuda, remaja maupun anak-anak.


Diantara cara berdakwah yang bisa dilakukan:

Khutbah atau ceramah


Hal ini sangat perlu mengingat masih banyak para khatib atau penceramah yang kurang memadai baik dari sisi akidah, sudut pandang terhadap agama maupun manhaj mereka, sehingga tidak jarang kita jumpai kesalahan dalam khutbah atau ceramah mereka. Hendaknya para da'i yang memiliki ilmu yang shahih menjadi seorang khatib karena dapat kita bayangkan bagaimana kondisi kaum muslimin yang hanya menerima informasi keagamaan setiap minggu (Jum'at) itupun tak semuanya benar.

Imamah/pengelolaan masjid

Yaitu mengelola dan mengadakan kegiatan di masjid-masjid yang tidak dipakai untuk shalat jum'at (Mushalla, Langgar dsb). Seorang da'i yang mumpuni jika mampu menjadi imam dan mengelola masjid maka akan memberi banyak manfaat kepada jama'ahnya seperti menyampaikan nasihat, wejangan serta mengadakan kajian-kajian di sana. Selain itu seorang imam masjid yang mengetahui seluk beluk ilmu syar'i dan beraqidah lurus sangat memungkinkan untuk diterimanya shalat jama'ah yang diimaminya-dengan izin Allah-sebab ia akan senantiasa melakukan shalat dengan semaksimal mungkin memenuhi syarat, wajib dan rukun-rukunnya.

Membantu pihak-pihak lain

Termasuk medan dakwah yang dapat ditempuh ialah dengan memberi-kan bantuan baik materi maupun maknawi. Banyak lembaga-lembaga dakwah dan pendidikan yang membutuhkan bantuan dan sokongan dari berbagai pihak sesuai profesi dan kemampuan yang ada.

Sifat-sifat seorang multazim

Seorang multazim memiliki sifat yang luhur sebagai pelengkap dan konsekwensi dari iltizamnya, di antara sifat-sifat itu adalah:

Baik dalam pergaulan, yaitu menunjung tinggi nilai-nilai akhlak.
Sopan santun terhadap orang lain, menghormati tetagangga dan menu-naikan amanah.
Menahan pandangan, tidak menyakiti orang lain, menjawab salam, beramar ma'ruf dan nahi mungkar.

Demikian, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambaNya yang senantiasa memegang teguh agama serta menolong kita untuk selalu berdzikir, bersyukur serta mem-perbagus ibadah kepadaNya. Amin.

Sumber: Haqiqatul iltizam, dari muhadharah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, disusun dalam bentuk buku oleh Abu Anas Ali bin Husani Abu Luz.

Rabu, 13 Januari 2010

Rukun Syahadat Muhammad Rasulullah

0 Komentar


Rukun Syahadat Muhammad Rasulullah

Sebagai kelanjutan dan pembahasan makna dari syahadat ‘Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya’, di sini kita akan mengenal apa saja perkara yang menjadi rukun atau keharusan dari syahadat kedua ini. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah dalam Tsalatsatul Ushul menyebutkan ada empat perkara yang merupakan rukun dari syahadat Muhammad Rasulullah, berikut uraiannya secara ringkas:

1. Menaati semua yang beliau perintahkan.
Allah Azza wa Jalla telah menetapkan wajibnya taat kepada Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- di dalam Al-Qur’an dalam banyak ayat dan juga dalam sunnah Rasul-Nya. Bahkan Allah menggandengkan ketaatan kepada-Nya dengan ketaatan kepada Rasul-Nya di dalam banyak ayat, di antaranya adalah dalam surah Al-Anfal ayat 1, “Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman”. Juga di dalam surah Al-Anfal ayat 20,  “Hai orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling daripada-Nya, sedang kalian mendengar (perintah-perintah-Nya)”.
Karenanya barangsiapa yang taat kepada Rasulullah berarti dia telah taat kepada Allah, dan dia pantas untuk mendapatkan keutamaan berupa surga. Tapi barangsiapa yang bermaksiat kepada Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- maka sesungguhnya dia telah bermaksiat kepada Allah, dan tempatnya adalah neraka. Allah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa` ayat 13-14, “Siapa yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang sangat besar”.“Siapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan melampaui batasan-batasan-Nya, maka allah akan memasukkannya kedalam neraka, kekal didalamnya dan baginya adzab yang menghinakan”.
Dalam hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- bersabda, “Semua ummatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau, para sahabat bertanya : “wahai Rasulullah siapakah yang tidak mau ?” Rasulullah menjawab : “siapa yang ta’at kepadaku maka dia masuk surga, siapa yang maksiat kepadaku, maka sesungguhnya dia tidak mau”.
Dan dalam hadits Jabir bin Abdillah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari disebutkan, “Siapa yang mentaati Muhammad shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka dia telah mentaati Allah dan siapa yang maksiat kepada Muhammad shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam maka sesungguhnya dia telah maksiat kepada Allah”.

2. Membenarkan semua perkara yang beliau kabarkan.
Sebab sesungguhnya apa yang beliau bawa semuanya adalah kebenaran, karena merupakan wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana dalam Al-Qur’an surah An-Najm ayat 3-4, “Dan dia tidak berbicara dari hawa nafsunya, kecuali itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”.
Juga firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 33, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.
Dan para Ulama telah bersepakat bahwa para rasul seluruhnya ma’shum terjaga dari dosa-dosa besar, dan termasuk di dalamnya berkata dusta. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata dalam A-Aqidah Al-Wasithiah, “Kemudian rasul-rasul yang benar dan dibenarkan”.
Karenanya apa saja yang beliau kabarkan berupa kejadian yang terjadi di masa lampau pada umat-umat terdahulu atau kejadian yang akan terjadi berupa tanda-tanda hari kiamat, keadaan di alam barzakh sampai yang terjadi setelah hari kiamat, semuanya wajib kitab imani dan benarkan, selama hadits tersebut shahih periwayatannya dari beliau, walaupun beberapa di antara hadits-hadits tersebut ada yang lahiriahnya bertentangan dengan akal dan teori sebagian orang.

3. Menjauhi semua beliau larang dan beliau peringatkan.
Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Hasyr ayat 7, “Dan apa yang Rasululah datangkan kepada kalian maka ambillah dan apa yang dilarang kepada kalian darinya maka jauhilah dan bertaqwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya”.
Juga sabda Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim, “Dan jika saya melarang dari kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan jika saya perintahkan kalian dan sesuatum maka datangkanlah sesuai kemampuan kalian”.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ary yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya perumpamaan aku dan perumpumaan apa yang Allah mengutus aku dengannya seperti seseorang yang mendatangi suatu kaum, kemudian berkata :”wahai kaumku sesungguhnya saya melihat pasukan dengan kedua mataku dan sesungguhnya saya adalah an-nadzir al-’uryan maka sekelompok dari kaumnya menta’atinya maka mereka bergegas berjalan dimalam hari dengan kehati-hatian maka mereka selamat dan sekelompok dari mereka mendustakannya, maka mereka tetap ditempatnya, maka pasukan itu menyerangnya diwaktu subuh, maka menghancurkannya dan membinasakannya, maka yang demikian itu perumpamaan orang yang menta’atiku dan mengikuti apa yang aku datangkan dengannya, dan perumpamaan orang yang maksiat kepadaku dan mendustakan apa yang aku datangkan dengannya dari kebenaran”.
An-nadzir al-’uryan adalah perumpamaan yang dipakai oleh orang-orang Arab untuk menunjukkan benarnya yang ia sampaikan.

4. Tidak menyembah Allah Azza wa Jalla kecuali dengan apa yang beliau syari’atkan.
Allah Ta’ala telah menciptakan kita dan memberikan rezeki kepada kita, lalu Dia tidak membiarkan kita tercipta begitu saja. Akan tetapi Allah mengutus seorang rasul kepada kita untuk menerangkan bagaimana setiap hamba menyembah Pencipta-Nya. Karenanya Allah tidak boleh disembah dengan bid’ah, tidak pula dengan hawa nafsu, adat istiadat, kebiasaan, mimpi-mimpi, perasaan atau anggapan-anggapan yang ia pandang baik. Karena sesungguhnya asal dari ibadah itu adalah syari’at, sehingga dia nanti dikatakan ibadah tatkala sesuatu itu disyari’atkan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 110, “Maka  siapa yang berharap untuk bertemu dengan Tuhannya maka hendaklah ia beramal yang shaleh”.
Para ulama menafsirkan bahwa amal yang shaleh di sini adalah amalan yang sesuai dengan syari’at Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku cukupkan pada kalian nikmatku dan Aku ridha Islam sebagai Agama kalian”.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya (2/13), “Ini adalah nikmat terbesar di antara seluruh nikmat Allah Ta’ala atas ummat ini, yaitu Allah Ta’ala telah menyempurnakan buat mereka agama mereka. Sehingga mereka tidak membutuhkan agama selainnya dan tidak pula membutuhkan Nabi selain Nabi mereka -shalawat dan salam Allah atas beliau-. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menjadikan beliau sebagai penutup para nabi, dan mengutus beliau kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal kecuali sesuatu yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali sesuatu yang beliau haramkan, dan tidak ada agama kecuali sesuatu yang beliau syari’atkan …”.

Juga dalam firman-Nya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu”. (QS. An-Nahl : 89)
As-Sa’di -rahimahullah- berkata -menafsirkan ayat di atas-, “(Sebagai penjelas) dalam masalah ushul (pokok) dan furu’ (cabang), dan dalam hukum-hukum kedua negeri (dunia dan akhirat), serta  semua perkara yang dibutuhkan oleh hamba. Semuanya telah dijelaskan di dalamnya (Al-Qur`an) dengan penjelasan yang paling sempurna, dengan lafazh-lafazh yang jelas dan makna-makna yang agung”.
Karenanya barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama ini dan mensyariatkan suatu syariat yang tidak disyari’atkan oleh Allah, maka sesungguhnya dia telah menuduh Allah berdusta, sadar atau tidak.
Wallahu waliyyu At-Taufik.

Makna Laa Ilaha Illallah

0 Komentar


Makna Kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah

Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya, dan dia juga tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Nabi Shallallahu alaihi wasallam menegaskan, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga”. (HR. Al-Bukhari)
Oleh karena itu, berikut penjelasan secara singkat mengenai makna kalimat tauhid yang mulia ini:
Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu: Kata (laa), kata (ilaha), kata (illa) dan kata (Allah). Adapun secara bahasa bisa kita uraikan sebagai berikut:
—        Laa adalah nafiyah lil jins (meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab: “Laa rojula fid dari” (tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis sembahan yang haq dari siapa pun selain Allah Ta’ala.
—        Ilah adalah mashdar (kata dasar) yang bermakna maf’ul (obyek), sehingga makna ilah adalah ma`luh. Ma`luh sendiri maknanya adalah ma’bud (yang diibadahi), karena aliha (kata kerja dari aliha) maknanya adalah ‘abada .
—    Illa (kecuali). Kata pengecualian yang bertugas untuk mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan oleh laa. Misalnya dalam contoh di atas: ‘Laa rajula fid dari illa Muhammad’, yaitu Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah, sehingga maknanya adalah tidak ada satu pun jenis lelaki di dalam rumah kecuali Muhammad. Jika diterapkan dalam kalimat tauhid ini makna maknanya adalah: Hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh kata laa sebelumnya.
—    Lafazh ‘Allah’ berasal dari kata الإله Kemudian hamzahnya dihilangkan untuk mempermudah membacanya, lalu huruf lam yang pertama diidhgamkan pada lam yang kedua sehingga menjadi satu lam yang ditasydid, lalu lam yang kedua dibaca tebal. Ini adalah pendapat Al-Kisa`i, Al-Farra` dan juga pendapat As-Sibawaih.
Adapun maknanya, maka Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata dalam Madarij As-Salikin (1/18): “Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan”.

Kemudian termasuk perkara yang penting diketahui dalam masalah ini adalah bahwa kata Laa membutuhkan isim dan khabar. Isimnya adalah kata ilaha, sedangkan khabarnya, maka di sinilah letak perselisihan manusia dalam penentuannya. Yang dipilih oleh seluruh ulama salaf adalah bahwa khabarnya dihilangkan. Karenanya kita terlebih dahulu harus menentukan khabarnya agar maknanya bisa dipahami dengan benar. Dan para ulama salaf bersepakat bahwa yang dihilangkan itu adalah kata haqqun atau bihaqqin (yang berhak disembah), dengan dalil firman Allah Ta’ala dalam surah Luqman ayat 30, “Yang demikian itu karena Allahlah yang hak (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Maka dari seluruh uraian di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa makna ‘laa ilaaha illallah’ adalah ‘laa ma’buda bihaqqin/haqqun illallah’ (tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah). Al-Wazir Abul Muzhoffar berkata dalam Al-Ifshoh, “Lafazh “Allah” sesudah “illa” menunjukkan bahwasanya penyembahan wajib (diperuntukkan) hanya kepada-Nya, maka tidak ada (seorang pun) selain-Nya yang berhak mendapatkannya”. Dan beliau juga berkata, “Dan termasuk faedah dari hal ini adalah hendaknya kamu mengetahui bahwa kalimat ini mencakup kufur kepada thaghut (semua yang disembah selain Allah) dan beriman hanya kepada Allah. Maka tatkala engkau menafikan penyembahan dan menetapkan kewajiban penyembahan itu hanya kepada Allah, maka berarti kamu telah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah”.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kalimat Laa Ilaaha Illallah mengandung dua rukun asasi yang harus terpenuhi sebagai syarat diterimanya syahadat seorang muslim:
Pertama: An-nafyu (peniadaan) yang terkandung dalam kalimat ‘laa ilaaha’. Yaitu menafikan, menolak dan meniadakan seluruh sembahan yang haq selain Allah, apapun jenis dan bentuknya, baik yang masih hidup apalagi yang sudah mati, baik dari kalangan malaikat yang terdekat dengan Allah maupun Rasul yang terutus, terlebih lagi makhluk yang derajatnya di bawah keduanya.
Kedua: Al-itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat ‘Illallah’. Yaitu menetapkan seluruh ibadah hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Baik yang zhahir seperti sholat, zakat, haji, menyembelih dan lain-lain maupun yang batin seperti tawakkal, harapan, ketakutan, kecintaan dan lain-lain. Baik berupa ucapan seperti dzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa dan sebagainya maupun perbuatan seperti ruku dan sujud sewaktu sholat, tawaf dan sa`i ketika haji dan lain-lain.
Maka syahadat seseorang belumlah benar jika salah satu dari dua rukun itu atau kedua-duanya tidak terlaksana. Misalnya ada orang yang hanya meyakini Allah itu berhak disembah (hanya menetapkan) tetapi juga menyembah yang lain atau tidak mengingkari penyembahan selain Allah (tidak menafikan). Berikut penyebutan beberapa ayat Al-Qur`an yang menerangkan dua rukun laa ilaha illallah ini, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (QS. An-Nisa`: 36)

Makna inilah yang dipahami oleh para sahabat dan para ulama setelah mereka sampai akhir zaman. Bahkan makna inilah yang dipahami oleh kaum musyrikin Quraisy semacam Abu Jahl, Abu Lahab dan selainnya. Sebagaimana yang diungkap oleh Allah Ta’ala pencipta mereka, “Sesungguhnya mereka apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” maka mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami hanya karena seorang penyair gila?”. (QS. Ash-Shoffat : 35-36)
Mereka juga berkata, “Mengapa ia menjadikan sembahan-sembahan itu sembahan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. (QS. Shod : 5)
Maka lihatlah -semoga Allah merahmatimu- bagaimana jawaban kaum musyrikin tatkala diperintah mengucapkan kalimat tauhid, spontan mereka menolak seruan tersebut. Mereka menolak bukan karena jahil dan bodoh tentangnya, akan tetapi justru karena mereka sangat mengetahui apa makna dan konsekwensi kalimat ini yaitu harusnya meninggalkan semua sembahan mereka dan menjadikannya hanya satu sembahan yaitu hanya Allah Ta’ala. Maka betapa celakanya seseorang yang mengaku muslim, akan tetapi Abu Jahl lebih tahu dan lebih faham tentang makna laa Ilaha illallah daripada dirinya. Wallahul musta’an.

{Lihat : Fathul Majid hal. 52-54 dan Kifayatul Mustazid bisyarhi Kitabit Tauhid Bab. Tafsirut Tauhid karya Syaikh Shaleh Alu Asy-Syaikh}

laa Ilaha Illallah

1 Komentar


Beberapa Pemaknaan Keliru Dari Kalimat Tauhid

Untuk lebih memantapkan pemahaman kita terhadap makna kalimat tauhid yang mulia ‘laa Ilaha Illallah’, maka di sini kami akan menjelaskan beberapa pemaknaan yang keliru dari kalimat tauhid ini. Karena sesuatu tidak akan bisa dikenali secara sempurna kecuali dengan mengenali kebalikannya, maka demikian pula kalimat tauhid yang mulia ini tidak akan bisa dipahami maknanya secara sempurna kecuali setelah mengetahui pemaknaan-pemaknaan keliru yang tersebar di tengah kaum muslimin. Seorang penya`ir pernah berkata, “Sesuatu akan dinampakkan kebaikannya oleh kebalikannya dan dengan kebalikannyalah semua perkara bisa menjadi jelas”.

Berikut beberapa pemaknaan yang keliru tersebut:
1.    Tidak ada yang ada kecuali Allah. (Laa Mawjuda Illallah)
Makna ini adalah makna yang paling batil dari semua makna-makna batil yang ada. Penafsiran ini disebarkan oleh orang-orang tashawwuf yang berpemahaman wihdatul wujud (Allah menyatu dengan makhluk-Nya) wal’iyadzu billah. Sisi kebatilannya ditinjau dari beberapa sisi: Pertama. mengartikan ilah sebagai mawjud (yang ada) sedangkan makna yang benar adalah bermakna ma’bud (yang disembah). Kedua, meniadakan khabar dari laa dan ini adalah kesalahan dari sisi bahasa sekaligus dalil akan rusaknya penafsiran ini dari sisi syari’at. Lihat makna laa Ilaha illallah sebelumnya. Ketiga, mengharuskan semua makhluk itu adalah Allah, karena semuanya ada dan disaksikan, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka sifatkan. Keyakinan ini kalau diyakini membuat pelakunya keluar dari Islam dan jauh lebih kafir daripada Nashrani. Karena Nashrani hanya meyakini adanya tiga Tuhan, sedangkan orang yang berkeyakinan seperti ini memiliki Tuhan yang tidak terbatas. Keempat, atau mengharuskan hanya Allah yang ada sedangkan kita semua sebagai makhluk-Nya mereka anggap tidak ada. Ini jelas kebatilannya dari sisi akal, hiss (panca indera) terlebih lagi dari sisi syari’at.

2.    Tidak ada sembahan yang ada kecuali Allah. (Laa ma’buda mawjudun illallah)
Makna dan tafsiran ini umumnya dikemukakan oleh sebagian ahli bahasa yang tidak memahami dengan benar makna ‘Laa Ilaaha Illallah’. Makna ini muncul karena mereka menyatakan bahwa khabar yang terbuang adalah kata ‘mawjudun’ atau ‘kainun’ yang berarti ‘ada’, sebagaimana yang biasa mereka sebutkan ketika menyebutkan taqdir (makna penyempurna) dari suatu kalimat. Padahal taqdir yang benar adalah haqqun atau bihaqqin sebagaimana telah dijelaskan. Dari sisi kedua, tafsiran ini menyelisihi kenyataan yang ada, karena kaum musyrikin di zaman Nabi maupun kaum musyrikin zaman sekarang- mereka menyembah sembahan lain selain Allah, seperti: Dukun, keris, jimat, kuburan, sapi, jin, patung-patung dan lain-lainnya tidak terhitung. Maka tidaklah benar kalau dikatakan yang disembah manusia hanyalah Allah saja. Kemudian dari sisi yang ketiga mengharuskan bahwa semua sembahan yang ada di dunia ini baik yang berhak disembah maupun yang batil- semuanya adalah Allah dan cukuplah ini sebagai suatu kesesatan yang nyata.

3.    Mengeluarkan keyakinan rusak yang berkenaan dengan makhluk dan memasukkan keyakinan yang benar tentang Allah. (Ikhrojul yaqin al-fasid ‘alal asyya` wa idkholil yaqin ash-shodiq alalllah)
Ini adalah penafsiran orang-orang sufi modern yang lebih dikenal dengan nama jama’ah tablig. Penafsiran ini juga batil baik dari sisi bahasa sebagaimana yang telah berlalu- terlebih lagi dari sisi syari’at. Hal itu karena amalan seperti ini yaitu hanya yakin kepada Allah Azza Wa Jalla dan mengeluarkan keyakinan mengenai selain-Nya adalah perkara yang tidak mungkin terjadi. Karena keyakinan semacam ini tsabit (tetap) pada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firmanNya dalam surah At-Takatsur ayat 6-7, “Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat)”.
Demikian pula ketika kita beriman kepada para malaikat, para nabi dan seterusnya, mengharuskan kita memasukkan keyakinan yang benar tentang malaikat dan seterusnya. Maka meyakini sesuatu yang terjadi dan merupakan kenyataan yang diketahui, tidaklah menafikan dan bertentangan dengan tauhid. Bahkan penafsiran ini mengharuskan kita tidak boleh beriman kepada malaikat, para nabi, hari kiamat dan seterusnya dari rukun iman.

4.    Tidak ada hakim (pemberi hukum) kecuali Allah (Laa Hakima illallah)
Ini adalah penafsiran semua sekte dan kelompok yang berpemahaman khawarij (takfiri). Yang dengannya mereka mengkafirkan siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Allah -menurut sangkaan mereka- secara mutlak tanpa ada perincian.
Adapun sisi kebatilannya, maka bisa ditinjau dari dua sisi: Pertama, sisi bahasa, yang mana mereka memaknakan ilah sebagai hakim, padahal makna ilah adalah ma’bud (sembahan) sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya. Kedua, kKeharusan dari makna ini adalah bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia belum ber-laa Ilaha illallah yang dengannya dia belum dihukumi sebagai seorang muslim. Oleh karena itulah orang yang membenarkan penafsiran ini, mereka mengkafirkan kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah tanpa membedakan niat dan tujuan mereka, karena semuanya -menurut sangkaan mereka- belum masuk ke dalam Islam, wal ‘iyadzu billah.

5. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (Laa Rabba bihaqqin illallah).
Pemaknaan seperti ini sempat kami temui pada beberapa tulisan dan buku terjemahan, baik yang tercetak maupun yang berupa artikel di internet. Dan yang lebih menyedihkan, ternyata penulis atau penerjemahnya menisbatkan diri kepada ahlussunnah atau salaf.  Sisi kesalahannya adalah memaknakan ‘Ilah’ sebagai ‘Rabb’, padahal telah berlalu penjelasannya bahwa makna ‘Ilah’ yang benar adalah ‘ma`luh’ atau ‘ma’bud’. Bukankah dia telah menghafal firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia.” (QS. An-Nas: 1-3) Maka dalam ayat ini jelas sekali Allah membedakan antara makna Rabbunnas (Tuhan manusia) dengan Ilahinnas (Sembahan manusia).

6. Tidak ada Tuhan selain Allah (Laa Robba illallah)
Ini adalah penafsiran yang dikemukakan oleh para ahli kalam dan filsafat atau yang terpengaruh dengan mereka.
Kata robbun (Tuhan) dalam bahasa Arab mencakup 3 makna, yaitu Al-Kholiq (pencipta), Al-Malik (penguasa) dan Al-Mudabbir (pengatur). Maka siapa yang meyakini bahwa Allah adalah Tuhannya, berarti dia meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan, yang menguasai dan yang mengatur dirinya beserta seluruh makhluk.
Setelah ini dipahami, maka ketahuilah bahwa makna kalimat ini ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ adalah benar. Hanya saja yang merupakan kekeliruan kalau kalimat ini dijadikan sebagai makna kalimat laa ilaha illallah. Hal itu karena kaum musyrikin Quraisy dan ahli kitab, bahkan Iblis, semuanya meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Berikut beberapa dali yang menunjukkan hal tersebut:
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)
“Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”. (QS. Al-Hijr: 36)
“Dan mereka (Firaun dan tentaranya) mengingkarinya (Allah adalah Tuhan) karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya“. (QS. An-Naml : 14)
Maka lihatlah, bagaimana kaum musyrikin, Firaun bahkan Iblis meyakini tidak ada Tuhan selain Allah. Oleh karena itulah para Rasul tidak diutus untuk menyuruh mereka mengakui Allah sebagai Tuhan akan tetapi untuk menyerukan kepada mereka agar mereka hanya menyembah kepada Allah dan meninggalkan semua sembahan selainNya.