Senin, 12 Maret 2012

Memetik Faedah dari Hadits Kisah Wanita Tua dari bani Israil

0 Komentar
Dalam sebuah riwayat dikisahkan:
عن أبي موسى قال: أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (وفي واية: نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بأعرابي فأكرمه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: تعهدنا ائتنا، فأتاه الأعرابي فقال له سول الله صلى الله عليه وسلم:) سل حاجتك، فقال: ناقة برحلها وأعنزا يحلبها أهلي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أعجزتم أن تكونوا مثل عجوز بني إسرائيل؟ فقال أصحابه: يا رسول الله وما عجوز بني إسرائيل؟ قال: إن موسى لما سار ببني إسرائيل من مصر، ضلوا لطريق فقال: ما هذا؟ فقال علماؤهم: نحن نحدثك، إن يوسف لما حضره الموت أخذ علينا موثقا من الله أن لا يخرج من مصر حتى ننقل ظامه معنا، قال: فمن يعلم موضع قبره؟ قالوا: ما ندري أين قبر يوسف إلا عجوز من بني إسرائيل، فبعث إليها فأتته فقال: دلوني لى قبر يوسف، قالت: لا والله لا أفعل حتى تعطيني حكمي، قال: وما حكمك؟ قالت: أكون معك في الجنة، فكره أن يعطيها ذلك فأوحى الله إليه أن أعطها حكمها، فانطلقت بهم إلى بحيرة موضع مستنقع ماء، فقالت: انضبوا هذا الماء فأنضبوا، قالت: احفروا واستخرجوا عظام يوسف فلما أقلوها إلى الأرض إذا الطريق مثل ضوء النهار
Dari Abu Musa ia berkata, seorang badwi datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian beliau memuliakannya dan berkata: ‘kemarilah‘. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
( Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam turun dari tunggangan beliau lalu memuliakannya. Beliau berkata kepada orang itu: ‘kemarilah bersama kami‘. Orang badwi itu lalu mendatangi beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: )
Sebutlah apa yang engkau inginkan“. Orang badwi menjawab: ‘Saya ingin unta dan pelananya serta kambing yang dapat diperah untuk memberi minum keluarga saya’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda:
“Apakah kalian tidak menginginkan seperti yang diinginkan oleh wanita tua dari Bani Israil?”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah siapa yang dimaksud wanita tua dari Bani Israil itu?”. Beliau berkata: “Musa ketika pergi dari Mesir bersama Bani Israil, mereka tersesat di jalan”. Musa bertanya: “Apa sebabnya menjadi begini?”. Orang-orang berilmu dari Bani Israil menjawab: “Kami beritahukan kepadamu, Nabi Yusuf ketika menjelang wafatnya membuat perjanjian dengan kami yang dipersaksikan oleh Allah, yaitu agar tidak keluar dari Mesir kecuali membawa jasad beliau bersama kami”. Musa berkata: “Kalau begitu siapa yang mengetahui dimana letak kuburnya?”. Mereka berkata: “Diantara kami tidak ada yang tahu letak makam beliau kecuali seorang wanita tua dari Bani Israil”. Lalu Musa mengutus orang untuk memanggilnya hingga wanita tersebut datang kepada Musa. Musa berkata kepada wanita itu: “Tunjukan kami letak makam Nabi Yusuf”. Wanita tersebut berkata: “Demi Allah tidak akan aku lakukan, sampai engkau mentaati ketentuanku”. Musa bertanya: ‘”Apa ketentuanmu itu?”. Wanita tersebut berkata: “Jadikan aku penghuni surga bersamamu”. Nabi Musa pun enggan memenuhinya, hingga Allah mewahyukan kepada Musa agar mentaati ketentuan tersebut. Lalu mereka pergi ke mata air dari sebuah danau. Wanita tersebut berkata: “Keringkan airnya lalu gali dan keluarkanlah jasad Nabi Yusuf”. Ketika jasadnya diangkat, jalan pun seketika menjadi jelas bagaikan terangnya siang.
(HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/344, Al Hakim 2/404-405)
Derajat Hadits
Al Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Bukhari dan Muslim”. Penilaian Al Hakim ini disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Albani berkata: “Yang benar, hadits ini shahih sesuai dengan syarat Shahih Muslim saja. Karena Al Bukhari tidak mengeluarkan riwayat Yunus di dalam Shahih-nya, melainkan di kitabnya yang lain yaitu Juz Al Aqira’ah“. (Silsilah Ahadits Shahihah, 1/623)
Faidah Hadits
  1. Betapa mulianya akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap orang awam.
  2. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah pemimpin negara yang senantiasa peduli terhadap kebutuhan rakyatnya, terutama orang-orang lemah yang kurang mampu. Tidaklah tersisa harta beliau melainkan sebatas harta untuk memenuhi kewajiban sebagai suami kepada keluarganya dan harta untuk diberikan kepada orang lain. Sebagaimana sabda beliau:
    لا يحل للخليفة من مال الله إلا قصعتان قصعة يأكلها هو وأهله وقصعة يضعها بين يدي الناس
    Bagi seorang khalifah, tidak halal memiliki harta dari Allah, kecuali dua piring saja. Satu piring untuk kebutuhan makannya bersama keluarganya. Dan satu piring untuk ia berikan kepada rakyatnya” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah no.362)
  3. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membimbing umat-nya agar senantiasa lebih mendambakan kebaikan akhirat dibanding kebaikan dunia semata. Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:
    فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْـحَصِيرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيمَا هُمَا فِيهِ وَأَنْتَ رَسُولُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَـهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟
    Ketika aku melihat bekas tikar di sisi badan beliau, aku pun menangis. Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku jawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra dan Kaisar berada dalam kemegahannya, padahal engkau adalah utusan Allah” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (Muttafaq ‘alaihi)
    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
    Tiadalah dunia dibanding akhirat melainkan hanyalah seperti air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya di laut.” (HR. Muslim no.2858).
  4. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengharapkan para sahabatnya meminta sebagaimana yang diminta oleh wanita tua dari Bani Israil, yaitu: surga. Ini menunjukkan bahwa mengharap surga itu tidaklah tercela, bukan tanda sedikitnya keikhlasan, bukan tanda rendahnya cinta kepada Allah, sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang.
  5. Kaum Bani Isra’il ketika itu berada di atas ilmu dan tauhid yang lurus, mereka tidak menyembah atau mengagungkan kuburan para Nabi. Mereka tidak ngalap berkah atau bertawassul dengan mayat para Nabi. Silakan simak  Hukum Ber-tabarruk Kepada Orang Shalih.
  6. Jangankan menyembah kuburan atau ngalap berkah, bahkan tidak terbesit dalam benak mereka untuk mencari tahu letak kuburan para Nabi. Yang tahu pun, ternyata tidak gembar-gembor atau dengan mudah memberi tahu letaknya. Mereka juga tidak membangun dan membuat megah kuburan tersebut. Nabi Musa dan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mencela mereka karena demikianlah yang seharusnya. Berbeda dengan orang-orang di zaman ini yang malah mencela orang-orang yang enggan mengagungkan kuburan orang shalih agar tidak dijadikan sarana kesyirikan.
  7. Para Nabi tidak dapat memberi syafa’at kecuali atas izin Allah. Sebagaimana Nabi Musa tidak dapat menjamin wanita tersebut masuk surga kecuali setelah diizinkan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman:
    قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
    Katakanlah, hanya milik Allah lah semua syafa’at itu. Ia yang menguasai langit dan bumi dan kepada-Nya lah engkau akan kembali” (QS. Az Zumar: 44)
  8. Jasad para Nabi tidak hancur dimakan tanah.
  9. Bukti adanya mu’jizat bagi para Nabi.
  10. Wajibnya menunaikan janji, terlebih lagi perjanjian dengan para Nabi Allah.
  11. Kata عظام yang artinya ‘tulang-belulang’ kadang bermakna ‘badan seutuhnya’. Jika  عظام dalam hadits di atas kita artikan  ’tulang-belulang’, maka bertentangan dengan hadits:
    إن الله تعالى حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء
    Sungguh Allah Ta’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi” (HR. Abu Daud 662, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah no.1527).
    Namun yang benar, kita maknai  عظام dengan makna  ’badan seutuhnya’ sebgaimana terdapat hadits :
    أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بدن، قال له تميم الداري: ألا أتخذ لك منبرا يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك؟ قال: بلى فاتخذ له منبرا مرقاتين
    Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sudah berusia senja, Tamim Ad Daari berkata kepada beliau:’Wahai Rasulullah, maukah aku ambilkan mimbar yang dapat membawa badanmu?’. Beliau berkata: ‘Boleh’. Lalu ia mengambil mimbar yang memiliki 2 anak tangga” (HR. Abu Daud 1081, Al Albani berkata: “Sanadnya jayyidsesuai dengan syarat Muslim”).
    Demikian penjelasan Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (1/624).

Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Selasa, 27 April 2010

Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl

0 Komentar

Muqoddimah :

Pada bulan Romadhon tahun 8 H terjadi  sebuah peristiwa agung yang sangat bersejarah dalam kehidupan Rosululloh dan umat islam. Peristiwa itu adalah Fathu Makkah, pembukaan kota mekah, yang sebelumnya di kuasai oleh orang-orang kafir musyrik menjadi wilayah kekuasaan islam. Sejak saat itulah tidak lagi disyariatkan hijroh dari mekkah ke madinah. Roslululoh bersabda :
لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ
“Tidak ada hijroh setelah fathu Makkah, namun yang ada adalah jihad dan niat.”
(HR. Bukhori Muslim)

Dengan dibukanya kota mekkah, bangsa Arab berbondong-bondong masuk kedalam agama islam,karena sebelumnya mereka masih menunggu, mereka mengatakan : jika Muhammad benar-benar seorang Nabi, pasti dia akan menguasai tanah kelahirannya. Alloh Ta’ala menggambarkan peristiwa itu dengan firman Nya :
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (1) Dan kamu lihat manusia masuk agama Allahdengan berbondong-bondong (2) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu danmohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalahMaha Penerima tobat (3)
(QS. An nashr : 1-3)
Namun disela-sela fragmen sejarah itu, terdapat beberapa kisah masyhur namun ternyata kurang bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya menurut ulama’ hadits. Salah satunya adalah tentang kisah masuk islamnya Ikrimah bin abu Jahl. Dan inilah kisah tersebut :

Al Kisah :

Dari Abdulloh  bin Zubair berkata: “Saat fathu Makkah, Ikrimah melarikan diri,  namun istrinya yang bernama Ummu Hakim binti Harits bin Hisyam adalah seorang yang cerdik, dia masuk islam lalu meminta kepada Rosululloh jaminan keamanan  untuk suaminya, maka Rosululloh memerintahkanya agar  mengembalikan suaminya, lalu diapun keluar mencari suaminya. Setelah ketemu, dia berkata kepada suaminya : “Saya datang kepadamu dari seseorang yang paling bisa menyambung hubungan antara sesama serta dari orang yang paling baik, saya telah meminta jaminan keamanaan kepadanya untukmu dan dia memberikannya..” Maka Ikrimah pun kembali bersamanya, maka tatkala dia sudah dekat Mekkah, maka Rosululloh bersabda:
يَأْتِيْكُمْ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِيْ جَهْلٍ مُؤْمِنًا مُهَاجِرًا ، فَلَا تَسُبُّوْا أَبَاهُ ، فَإِنَّ سَبَّ الْمَيِّتِ يُؤْذِي الْحَيَّ ، وَلَا يَبْلُغُ الْمَيِّتَ
“ Akan datang pada pada kalian Ikrimah bin Abu Jahl dalam keadaan mu’min muhajir(orang yang hijroh), maka janganlah kalian mencela bapaknya, karena mencela orang yang telah meninggal dunia akan menyakiti yang masih hidup dan tidak akan sampai kepada orang yang telah meninggal dunia.” Maka tatkala dia sudah berada di pintu, maka Rosululloh bergembira  dan segera bangkit untuk menyambutnya.”

Derajat kisah :

Kisah ini palsu, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al Albani dalam Adh Dho’ifah ; 6234

Takhrij kisah :

Diriwayatkan oleh Al Waqidi dalam Al Maghozi 2/850, Hakim dalam Al Mustadrok 3/241, Baihaqi dalam al Madkhol 398/710 Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 11/755 dari Waqidi berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Sabroh dari Musa bin Uqbah dari Abu Habibah dari Abdulloh  bin Zubair

Sebab kelemahan kisah ini :

Kelemahan kisah ini disebabkan dua hal :
Pertama : Al Waqidi
  • Al Hafizh Ibnu Hajar dalam lisanul Mizan berkata : Al Waqidi adalah Muhammad bin Umar bin Waqid Al Aslami Abu Abdilah Al Madani, salah satu tokoh dan qodhi Iraq. Dia seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya) meskipun ilmunya luas.
  • Dia didustakan oleh Imam Ahmad.
  • Yahya bin Ma’in berkata : Dia tidak ada apa-apanya.
  • Ali bin Madini berkata : Al Waqidi memalsukan hadits.
  • (Al Majruhin Ibnu Hibban 2/290)
Kedua : Ibnu Abi Sabroh
Dia adalah Abu Bakr bin Abdulloh bin Muhammad bin Abu Sabroh dari penduduk Madinah.
  • Yahya bin Ma’in berkata : Dia tidak ada apa-apanya.
  • Imam Ahmad mendustakannya.
  • An Nasa’i berkata : Dia matruk.
  • Dia juga dilemahkan oleh Imam Bukhori serta lainnya.
  • (Lihat Al Majruhin 3/147, Mizanul I’tidal 4/503)
Syaikh Al Albani berkata:
“Hadits ini didiamkan oleh Hakim, Dzahabi dan Baihaqi, hal ini dalam persangkaanku adalah karena nampak kelemahan bahkan kepalsuannya, karena al Waqidi sendiri adalah seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya) dan gurunya Ibnu Abi Sabroh  dituduh oleh para ulama’ sebagai pemalsu hadits.”
(Lihat Adh Dho’ifah: 6234, 1443)

Siapakah Ikrimah bin Abu Jahl

Beliau bernama Ikrimah bin Amr bin hisyam (amr bin Hisyam ini adalah Abu Jahl) bin Mughiroh Al Qurosyi al Makhzumi.
Sebagaimana bapaknya, Ikrimah dulunya adalah seorang yang sangat memusuhi islam. Namun beliau masuk islam saat Fathu Makkah kemudian hijroh ke kota madinah dan ikut andil dalam memerangi orang-orang yang murtad sepeninggal Rosululloh. Beliau wafat dalam salah satu peperangan, hanya saja para ulama’ berselisih akan peperangan tersebut, sebagian mengatakan perang Yarmuk pada zaman kekhilafahan Umar bin Khothob, sebagian ulama’ lainnya berpendapat beliau wafat pada zaman Abu Bakr.
Adapun riwayat yang shohih tentang keislaman Ikrimah adalah apa yang diriwayatkan oleh An Nasa’i dengan sanad shohih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al Albani dalam shohih wa dhoif  Nasa’i :4067 adalah sebagai berikut :
Dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya berkata :
“Saat fathu makkah, Rosululloh memberikan keamanan kepada manusia kecuali empat laki-laki dan dua wanita, beliau bersabda : Bunuhlah mereka meskipun kalian temukan mereka sedang berpegangan pada kain ka’bah. Mereka adalah Ikrimah bin Abu Jahl, Abdulloh bin Khothl, Maqis bin Shobabah dan Abdulloh bin Sa’d bin Abis Sarh. Adapun Abdulloh bin Khotl, dia ditemukan sedang berpegangan pada kain ka’bah, dia diserang oleh Sa’id bin Harits dan Ammar bin Yasir, hanya saja Sa’id lebih mendahului Ammar, sehingga dia lah yang membunuh Abdulloh bin Khothl. Sedangkan Maqis bin Shobabah, dia ditemukan berada di pasar, maka diapun dibunuh oleh banyak orang.
Adapun Ikrimah bin Abu Jahl, dia naik kapal di lautan, tiba-tiba datanglah badai, maka para awak kapal berkata : Ikhlaskanlah (do’a hanya kepada Allloh) karena tuhan-tuhan kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa disini.” Maka Ikrimah berkata : “Demi Alloh, jika tidak ada yang bisa menyelamatkanku di lautan ini kecuali keikhlasan (kepada Alloh), maka tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku di daratan melainkan Dia. Ya alloh jika saya berjanji kepadamu, jika Engkau menyelamatkanku, saya akan datang kepada Muhammad, lalu saya akan meletakkan tanganku pada tangan beliau, dan niscaya saya akan dapati beliau sebagai seorang yang pemaaf lagi mulia.” Lalu Ikrimahpun dating dan masuk islam. Adapun Abdulloh bin Abis Sarh …………”
(HR. Nasa’I. Lihat pula ash shohihah 1723)