Rabu, 18 Januari 2012

Bagaimanakah Mempersiapkan Masa Depan Anak-Anakmu?

0 Komentar
Oleh : Ustadz Aburrahim Ayyub

Bismillah akhi banyak pertanyaan akhir-akhir ini dari member tentang kekawatiran seorang ibu atau ayah terhadap masa depan agama anak-anaknya, ini suatu hal yang wajar karena dunia disekitar kita hidup begitu semarak dengan yang namanya maksiat dan kehidupan yang glamour, acara Televisi yang tidak lagi melihat kepada ajaran agama bak dari segi aqidah, metode (manhaj) apa lagi akhlaq. siaran radio juga seperti itu, media cetak dll.  Suatu tantangan yang wajar jika orang tua yang faham agama semakin khawatir akan anak-anaknya. Setiap keluarga berbeda menanganinya ada yang menyibukan anaknya dengan sekolah, ada yang dapat mengatur dengan jadwal yg ketat, ada yang terbengkalai siang dan malam tidak jelas kegiatan anak-anaknya bahkan tidak tahu sama sekali apa yang dikerjakan anaknya selama ini dan sudah bebebrapa tahun seperti ini. Laa hauwlaa walaa quwwata illa billah, demikian parahnya orang tua yg sibuk mencari nafkah atau lainnya dengan alasan klasik “demi anak istritetapi sebenarnya kita sedang menggali lobang kesengsaraan untuk anak istri kita. Baik buruknya anak kita bukan tugas para guru, ustadz, dll. Anak kita adalah tugas kita, bagaimana mereka terbentuk adalah tanggung jawab kita.
“Setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya akan kepemimpinan kamu” (al hadits)
“laki2 ada pemimpin bagi kaum wanita”(al ayat),
“jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (al ayat)
Dalil-dalil yang selalu kita dengar dan hafal maknanya ini, dari lisan para mubaligh, ustadz-ustadz kita, buku-buku agama,dll tidak akan menjadi suatu hal yang ada faidahnya jika kita tidak amalkan dengan kenyataan sehari hari.
Doa2 yang kita panjatkan “wahai rabb kami anugerahilah dari istri2 kami dan turunan kami sebagai penyejuk mata…dst” kadang kala hanya doa yang besifat tradisi jika amalannya bertentangan dengan doa tersebut. Seorang ayah berdoa agar anaknya tidak sesat tetapi dia bangga menyekolahkan anaknya di sekolah “kristen” dengan alasan mutunya lebih baik. Ini adalah contoh yang nyata dan sangat bertentangan.
Dengan ruh dari ajaran islam itu sendiri tentang pendidikan Islam. Alangkah buruknya seorang ayah jika memasukan anaknya kepada api yang menyala nyala dengan dalih bahwa dia sangat sayang kepada anaknya. Ini adalah sesuatu yang diluar akal sehat. Begitulah kenyataannya…
Kita selalu dihadapi dengan keadaan dimana seseorang tidak lagi melihat kampung “akhirat“, “syurga” dan “neraka” sebagai ukuran. Yang ada dibenaknya adalah “bagaimana hidup makmur di dunia ini??” Dengan jalan memuaskan dan mewajibkan diri untuk memiliki apa yang kebanyakan manusia miliki dari segi keduniaan. Sehingga keluar dari koridor “haram“, “hailal“, tidak ada lagi ukuran. Yang penting dapat bersaing dengan sesama…. Naudzubillahi mindzaalik. Bahkan mereka mulai membuat kelas-kelas sendiri dari segi “sosial” dengan ada kecenderungan tolak ukurnya hanya “they have” dan “they have not“, hanya melihat dari segi materi… sungguh ini sangat menyedihkan dan menyayat hati dan sangat jauh dari ajaran islam yang suci…. Bukan berarti disini ajaran islam menolak orang yang kaya atau kelebihan harta tidak sama sekali…
Sungguh jauh tesesat sebagaimana sesatnya keledai yang bodoh, Islam mengatur kekayaan mendidik umatnya untuk makmur memiliki harta berkecukupan dalam menopang ibadah2 serta menjalankan tugas2 yang mulia dengan jalan yang halal dan cara yang syar’i, inilah ajaran islam yang diwariskan oleh para ulama Rabbanii….
Ibnu Hajar orang yang kaya tetapi beliau orang yang alim dan pembela sunnah, Abu Hanifah pedagang ulung, kalau dikalangan sahabat adalah Ustman radliallahu anhu, Abdurrahman bin Auf, mereka kaya tetapi mereka takut pada Allah azza wajalla…. inilah yang kita inginkan.. dimana keadaan kekayaan,kemakmuran kita kita tujukan kepada perjuangan anak dan istri kita menuju ridho Allah azza wajalla dan menuju jannahNya…bukan sebaliknya…alangkah buruknya jika anugerah yang kita miliki ini tidak dapat kita nikmati berkelanjutan sampai akhirat padahal kita telah mengetahui nikmatnya kehidupan ini.
Begitu indahnya hidup ini nimatnya makan, minum dan menghirup udara yang segar dll ..berkendaraan yang bagus… adalah suatu karomah dari Allah azza wajalla akan hidayah untuk mempertahankannya sampai seseorang masuk jannah-Nya yang berjuta kali hanya Allah saja yang Maha Mengetahui nikmatnya jannah….juga kesengsaraan yang begitu memilukan dan memedihkan tidak akan ada artinya dibanding dengan nerakanya Allah azza wajalla yang dahsyat….inilah hidayah ya akhi inilah nikmat yang hakiki dimana harga hidayah ini melebihi emas sebulat bumi “al ayat al imran: 91″ dan di hadits Muslim , dimana seseorang yg mati dalam keadaan kafir dan belum sempat mengucapkan sahadat akan rela menebus disinya dari api neraka pada saat dia dihadapkan oleh Allah azza wajalla untuk dimasukan ke neraka…… naudzubillahi mindzalik…..
Dari sini ya akhi … jika Allah tidak memberi apa-apa kepada kita kecuali seteguk air yg dari sungai dan segenggam rumput liar untuk dimakan… dari kita hidup sampai kita menghembuskan nafas terakhir jika kita mati dalam keadaan Allah ridho sungguh kita telah membawa keselamatan kita telah membawa emas sebesar bumi ini karena kita membawa tauhid dan akan selamat dari nerakanya Allah dan dimasukkan ke jannahnya. Inilah hakikat hidup yang mulia yang hanya hidayah taufiq dari Allah azza wajalla saja yang dapat membimbing kita akan kefahaman ini. Bukan dari kehebatan akal kita dan bukan pula dari kejeniusan kita. Hal ini adalah dari kasih sayang dan rahnat Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya. Semoga kita termasuk dari kalangan hambaNya yang selalu mendapat hidayah taufiq dan selalu mampu bertaubat dan selalu mampu manjalankan syairatNya dengan ikhlas karena mencari WajahNya saja dengan selalu beramal ibadah yang sesuai AlQuran dan assunnah dengan manhaj kefahaman para sahabat rodliallahu ahnhum sampai akhir dicabutnya nyawa ini mengahadap illaahi Robbiiyy aquulu qaulii hadzaa wa astaghfirullahi lii walakum doa kafarah majlis..
Mudah2 ada faidahnya sikahkan sebarkan jika ada yg memerlukan nasehat ini barakallahu fiik akhi….

Selasa, 27 April 2010

Anak Zina Anak Haram ?

0 Komentar


A. Pengantar
Masyarakat kadang-kadang dholim dalam bersikap terhadap anak yang dilahirkan tanpa bapak yang sah alias anak zina. Anak haram, anak jadah atau sebutan lainnya mungkin sering kita dengar untuk menyebut mereka. Padahal kita semua tahu bahwa mereka tidak ingin dilahirkan tanpa ayah dan mereka juga tidak ikut menanggung dosa zina kedua orang yang menyebabkannya lahir ke alam dunia ini. Alloh Ta’ala berfirman :
“Dan seseorang itu tidak akan menanggung dosa orang lain.”
(QS. Al An’am : 164)
Namun sebelum beranjak lebih jauh, terlebih dahulu saya katakan bahwa saya tidak akan membahas semua permasalahan yang berhubungan dengan anak zina, karena pembahasan itu sangat luas, namun yang akan saya bahas disini adalah hukum anak zina dalam hubungannya dengan fiqh islam seperti menjadi imam sholat, warisan, nasab dan lainnya. Wallahul Musta’an
B. Bolehkah Anak Zina Menjadi Imam Sholat Berjamaah ?
Jumhur ulama’  diantaranya Imam Ahmad, Atho’, Hasan Al Bashri, Tsauri dan lainnya memperbolehkannya tanpa di makruhkan. Dan ini adalah madzhab yang rajih insya Alloh. Berdasarkan beberapa dalil diantaranya :
1.Mereka tidak menanggung dosa orang tuanya. Sebagaimana firman Alloh  :
“Dan seseorang itu tidak menanggung dosa orang lain.” (QS. Al An’am 164)
2.Keumuman sabda Rosululloh :
يؤم القوم أقرؤكم لكتاب الله
“Yang menjadi imam bagi kalian adalah orang yang paling faham terhadap kitabulloh.” (HR. Muslim 290, Abu Dawud 282, Turmudli 235)
(Lihat Al Mughni Imam Ibnu Qudamah 3/72, Asy Syarhul Mumti’ Syaikh Utsaimin 4/355, Al Majmu’ Imam Nawawi 4/249)
  • Hanya saja Imam Syafi’I dan Abu Hanifah membenci imam dari anak zina,
  • sedangkan Imam Malik bin Anas hanya membenci anak zina jadi imam rowatib. Namun tidak ada dalil kuat yang menunjukkan akan dimakruhkannya keimamahan anak zina. (Lihat Al Umm Imam Syafi’I 1/166, Syarah Fathul Qodir Imam Ibnul Humam 1/247, Al Mudawwanah Imam Malik 1/86)


C. Nasab Anak Zina
Para ulama’ sepakat bahwa anak zina dinasabkan pada ibunya, bukan pada ayahnya, sebagaimana anak yang di li’an 1 oleh bapaknya. (Lihat Bada’I Ash shona’I Imam Al Kasani 5/363, Al Majmu’ Imam Nawawi 19/48, Al Muhalla Imam Ibnu Hazm 10/323, Al Istidlkar Imam Ibnu Abdil Bar 22/177, Zadul Ma’ad 5/368)
Dalil tentang hal ini :
1.Hadits Ibnu Umar berkata :
“Sesunguhnya ada seorang laki-laki yang meli’an istrinya pada zaman Rosululloh dan menafikan anaknya, maka Rosululloh memisahkan antara keduanya dan menasabkan anak tersebut pada ibunya.” (HR. Bukhori 2/525, Muslim 2/1133)
2.Hadits Aisyah berkata :
“Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Abd bin Zam’ah bertengkar mengenai seorang anak. Sa’ad berkata : “Wahai Rosululloh, ini adalah anak saudaraku Utbah bin Abi Waqqosh, dia memesan padaku bahwa dia adalah anaknya, lihatnya pada kemiripan antara keduanya.” Maka Abd bin Zam’ah berkata : “Wahai Rosululloh, ini adalah saudaraku, dia terlahir di firasy bapakku dari budak wanitanya.” Maka Rosululloh memandangnya, dan beliau melihat ada kemiripan yang sangat jelas dengan Utbah bin Abi Waqqosh. Maka Rosululloh bersabda :
هو لك يا عبد بن زمعة الولد للفراش و للعاهر الحجر
“Dia untukmu, wahai Abd bin Zam’ah anak itu milik yang memiliki firasy 2 dan bagi pezina hanyalah kerugian.” (HR. Bukhori 6750, Muslim 2/180)
  • Letak pengambilan dalil dari hadits ini bahwasanynya Rosululloh tidak menjadikan bagi pezina laki-laki kecuali kerugian, oleh karena itu si anak dinasabkan pada ibunya karena tidak ada firasy. Adapun si wanita pezina dinasabkannya anak itu padanya karena memang dia yang melahirkan, sama saja apakah kelahiran itu karena nikah ataukah zina. (Lihat Fathul Bari 10/36, Zadul Ma’ad 5/368, Al Majmu’ Imam Nawawi 19/38)
Namun para ulama’ berselisih terntang apabila sang pezina laki-laki mengakunya sebagai anak, dan tidak ada firasy (suami dari istri atau tuan bagi budak wanita) yang menentangnya, apakah bisa dinasabkan padanya ataukah tidak?
  • Imam madzhab empat dan Ibnu Hazm mengatakan bahwa anak zina tidak bisa dinasabkan pada bapaknya secara muthlak, meskipun tidak ada firasy yang menentangnya.
  • Dalil mereka adalah hadits Aisyah di atas. Disitu Rosululloh bersabda : “Anak itu milik yang ounya firasy dan bagi pezina cuma kerugian.”
  • Hadits ini menunjukkan bahwa anak milik yang punya firasy, dan firasy tidak bisa dicapai kecuali dengan dua cara :
  1. Akad nikah yang shohih atau yang bathil dan sudah terjadi jima’ syubhah 1
  2. Memiliki budak wanita
seandainya kita nasabkan anak pada pezina laki-laki itu berarti kita menjadikan anak pada selain firasy. Dan ini jelas bertentangan dengan sabda Rosululloh tersebut.
(Lihat At Tamhid Imam Ibnu Abdil Bar 7/183, Al Inshof Imam Al Mardawi 9/269, Roudlotut Tholibin Imam Nawawi 6/44, Al Muhalla 5/363)
  • Beberapa ulama’ diantaranya Atho’, Amr bin Dinar, Hasan, Ishaq bin Rohawaih. Mereka berkata apabila tidak ada pemilik firasy lalu anak zina itu ada yang mengakunya, bahwa dia berzina dengan ibunya, maka dia di nasabkan pada yang mengakunya tersebut.
  • Mereka menta’wilkan hadits yang dijadikan dasar oleh jumhur dengan bahwasannya anak itu milik firasy kalau ada, namun kalau tidak ada firasy dan ada yang mengaku berzina dengan ibunya maka dia dinasabkan padanya. (Lihat Al Istidlkar Imam Ibnu Abdil Bar 22/177, Tsubutun Nasab oleh Yasin  Mahmud Al Khothib hal : 395)
  • Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, beliau berkata :
“Qiyas yang shohih menunjukkan akan hal ini, karena bapaknya adalah salah satu yang berzina, maka apabila anak tersebut dinasabkan pada ibunya dan bisa mewarisinya juga adanya hubungan nasab antara ia dengan kerabat ibunya, padahal ibunya pun berzina dengan bapaknya. Si anak itu pun dilahirkan dari air mani keduanya, maka apa yang menghalangi untuk di nasabkan pada bapaknya jika tidak ada yang menentangnya ? Juga pernah Juraij berkata kepada anak yang ibunya berzina dengan seorang penggembala 2 : “Siapakah bapakmu ?” maka si anak menjawab : “Fulan si penggembala.” Ini adalah pembicaraan atas bimbingan Alloh yang tidak mungkin berbohong.” (Lihat Zadul Ma’ad 5/381)
  • Madzhab ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Mardawi dalam Al Inshof 9/269. Wallahu A’lam
D. Hukum Menikah dengan Putrinya yang Dilahirkan karena perzinaan.
Apabila seseorang berzina berzina dengan wanita, lalu wanita tersebut hamil dan melahirkan anak wanita, apakah boleh bagi laki-laki tersebut untuk menikah dengan putri yang dilahirkan itu ?
Ada sedikit pebedaan ulama’ mengenai hal ini :
Imam Malik dan Syafi’I dalam madzhab yang masyhur dari beliau 3 bahwa boleh baginya untuk menikah dengan anak putri tersebut. (Lihat Al Majmu’ Imam Nawawi 17/386, At Tamhid Imam Ibnu Abdil Bar 8/1910)
Dalil mereka adalah :
Bahwasannya anak wanita itu bukan putrinya secara syar’I, dengan bukti bahwa keduanya tidak saling mewarisi, dan tidak wajib memberi nafkah, tidak boleh menjadi wali dalam pernikahannya juga tidak dikenai hukum nasab lainnya. Dan kalau dia bukan merupakan anaknya secara syar’I maka tidak masuk dalam keumuman firman Alloh Ta’ala :
“Di haramkan bagi kalian (untuk menikahi) ibu-ibu kalian, anak perempuan kalian,…” (QS. An Nisa’ : 23)
namun masuknya dalam keumuman wanita yang halal dinikahi, sebagaimana firman Alloh Ta’ala
“Dan dihalalkan (menikah) dengan wanita selain mereka.” (QS. An Nisa’ : 24)
Akan tetapi jumhur ulama’ diantaranya Imam Abu Hanifah dan Ahmad mengatakan bahwa haram menikah dengan wanita hasil perbuatan zinanya. (Lihat Al Mughni 9/529, Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 32/134, Bada’I Ash Shona’I 3/1358)
Mereka berdalil dengan keumuman firman Alloh Ta’ala :
“Diharamkan atas kalian (menikah) dengan ibu-ibu kalian dan anak-anak perempuan kalian …” (QS. An Nisa’ : 23)
Lafadl Banatikum (anak-anak peremuan kalian) mencakup semua anak wanita baik secara hakikat maupun majaz, dan memang anak ini adalah anaknya yang tercipta dari air maninya, sama saja apakah ada hak saling mewarisi ataukah tidak.
  • Pendapat yang rajih –Wallahu A’lam- adalah pendapat jumhur. Adapun mengenai dalil yang dipakai oleh madzhab yang membolehkannya, maka kita katakan bahwa tidak adanya sebagian hukum nasab yaitu tidak saling mewarisi, tidak boleh menjadi wali dan lainnya tidak menafikan bahwa dia itu memang anaknya, sebagaimana juga tidak bisa saling mewaris karena sebab salah satu menjadi budak atau berbeda agama. (Lihat Al Mughni 9/530)
Demikian juga keumuman ayat tahrim (ayat yang menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi yaitu An Nisa’ : 23,24) bukan seperti keumuman ayat warisan (An Nisa’ 11,12,176) dari tiga segi :
1.Ayat tahrim mencakup anak wanita, putri anak laki-laki, putri anak wanita, sebagaimana lafadl bibi juga mencakup bibinya bapak, bibinya ibu serta bibinya kakek, demikian juga anak wanita dari saudara wanita dan anak wanita dari keponakan. Keumuman seperti ini tidak terdapat dalam ayat warisan maupun ayat lainnya yang ada hubungannya dengan bab nasab.
2.Sesungguhnya diharamkannya menikah itu bisa cuma dengan sekedar adanya sebab susuan, sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh :
يحرم  من الرضاع ما يحرم من النسب
“Diharamkan dari sebab persusuan sebagaimana diharamkan karena sebab nasab.”
(HR. Bukhori 3/222, Muslim 2/1068)
Alloh Ta’ala mengharamkan seorang wanita untuk menikah dengan anak yang disusukannya, atau menikah dengan anak keturunannya, begitu juga haram atas ibu maupun bibinya. Bahkan diharamkan bagi anak wanita untuk menikah dengan suami ibu susunya, karena dialah yang yang menjadi sebab adanya air susu tersebut. Oleh karena itu kalau memang seseorang dilarang menikah dengan anak wanita susuannya, padahal tidak ada hukum nasab apapaun selain keharaman menikah dan yang semisalnya, lalu bagaimana mungkin dihalalkan menikah dengan anak wanita yang terlahir dari air maninya ? ini lebih jelas lagi keharamannya berdasarkan keumuman khithob dan qiyas aulawi (hukum yang dikiaskan lebih dari asal nya)
3.Alloh Ta’ala berfirman :
“dan istri-istri anak kandung yang dari tulang rusuk kalian..” (QS. An Nisa’ : 23)
Lafadl “ashlabikum” (anak kandung yang dari tukang rusuk kalian) untuk mengeluarkan anak angkat, sebagimana firman Nya :
“Supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (menikah) dengan istri-istri anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari mereka.” (QS. Al Ahzab : 37)
Padahal telah diketahui bersama bahwa orang-orang pada zaman jahiliyah mengaku anak dari hasil zina itu lebih berat dari pada menjadikan anak angkat. Maka apabila Alloh menghususkan menantu hanya dari anak kandung, maka lafadl “Banat” yang umum mencakup semua yang termasuk anak perempuan. (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 32/135 dengan sedikit perubahan)
E. Hukum Warisan Anak Zina
Anak zina tidak saling mewarisi antara dia dengan bapak zinanya, karena tiak ada hubungan nasab antara keduanya sama sekali, juga tidak saling mewarisi antara dia dengan keluarga bapak zinanya. Berdasarkan hadits riwayar Amr bin Syu’aib dar bapak dari kakeknya bahwasannya Rosululloh bersabda :
أيما رجل عاهر بحرة أو أمة فالولد ولد الزنا لا يرث و لا يورث
“Siapa saja lelaki yang berzina baik dengan wanita merdeka ataupun budak, maka anaknya anak zina tidak mewrisi dan tidak diwarisi.” (Shohih, lihat Shohih Turmudli 2113dan Tahqiq Misykah 3054)
Adapun antara dia dengan ibunya, maka keduanya saling mewarisi dengan kesepakatan para ulama’ (Lihat Al Mughni 9/114, Al Muhalla 9/302, Al Majmu’ 17/245)
Tentang cara mewarisi antara keduanya, untuk warisan anak dari ibunya maka sebagaimana hukum anak lainnya. Namun untuk warisan ibu dari anak  zinanya, ada perbedaan pendapat yang cukup tajam diantara para ulama’.
I. Imam Syafi’I, Malik, Abu Hanifah, Said bin Musayyib, Umar bin Abdul Aziz dan lainnya mengatakan bahwa anak zina apabila meninggal dunia , maka hartanya diwarisi oleh ibunya dan saudara-saudaranya seibu sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh dalam Al Qur’an lalu sisanya diberikan pada baitul mal ummat islam.
Dalil mereka adalah :
Bahwasannya hak mewarisi itu telah ditetapkan dengan nash, sedang tidak ditemukan nash yang memberikan bagian ibu diatas seprtiga, juga saudara seibu tidak lebih dari seperenam. Adapun bapaknya ibu serta kerabat ibu lainnya tidak ada bagian warisnya
II. Imam Ahmad dalam salah satu riwayat, Sya’bi, An Nakho’I, Ats Tsauri, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar mengatakan bahwa harta warisan anak zina milik ibunya secara ashobah, kalau ibunya tidak ada maka  diberikan pada ashobah 1 ibunya
Dalil mereka adalah :
1.Dari Amr bin Syu’aib dari bapak dari kakeknya berkata : “Sesunguhnya Rosululloh menjadikan warisan anak yang di li’an untuk ibunya kemudian untuk ahli waris ibunya setelahnya.” (HR. Abu Dawud 2/112, Darimi 2/364 dengan sanad shohih, lihat shohih Abu dawud 2/220/2907)
letak pengambilan dalil bahwa ibunya mewarisi dengan cara ashobah, bahwa dalam kaedah ilmu faraidl orang yang jadi penyambung ahli waris yang ashobah maka dia mesti ashobah juga. Maka kalau keluarga dari jalur ibu ashobah berarti ibunya pun ashobah. (Lihat Tashilul faraidl hal : 48)
2.Karena ibu bagi anak zina adalah semacam ibu bapaknya dalam hal nasab, maka diapun mengambil semua sisa warisannya sebagaimana seorang bapak.(Lihat Al Mughni 9/118)
III. Sementara Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Ibnu Sirin dan Ahmad dalam riwayat lainnya mengatakan bahwa harta anak zina diwarisi oleh ibunya sesuai dengan ketentuan Al Qur’an. (mungkin 1/3 atau 1/6) lalu sisanya untuk ashobah ibunya.
Dalil mereka adalah :
1.Sabda Rosululloh :
ألحقوا الفرائض بأهلها فما بقي فلأولى رجل ذكر
“Berikanlah bagian warisan pada yang berhak, lalu sisanya berikan pada laki-laki yang paling dekat.” (HR.Bukhori 8/187, Muslim 3/1233)
Dan laki-laki yang paling dekat hubungan kekeluargaan dengan anak zina adalah kerabat ibunya yang laki-laki
2.Beberapa atsar dar sahabat, misal Ali bin Abi Tholib tatkala merajam wanita yang berzina, beliau mengatakan pada wali wanita tersebut : “anak ini (anak yang dihasilkan dari zina) adalah anak kalian, kalian mewarisinya dan diapun mewarisi kalian.”
3.Seandainya sang ibu mendapat ashobah seperti bapak, pasti akan menghalangi bagian saudaranya. Dan hal ini tiak ada seorangpun yang mengatakannya. (Lihat Al Mughni 9/118)
Pengaruh khilaf ini pada raktek pembagian warisan :
Seandainya ada anak zina meninggal yang meninggalkan ibu dan paman dari jalur ibu. Dalam madzhab pertama ibunya mendapatkan sepertiga lalu sisanya diberikan pada baitul mal, dalam madzhab kedua ibu mendapatkan seluruh harta sedang paman tidak mendapatkan apa-apa, dan dalam madzjab ketiga ibu mendapatkan sepertiga dan sisanya untuk paman. (Lihat Al Majmu’ Imam Nawawi 17/247, Al Mughni 9/118)
Yang rajih diantara ketiga madzhab ini –wallohu a’lam- adalah madzhab kedua karena keshohihan dan kejelasan dalil mereka, adapun dalil madzhab pertama dan ketiga adalah umum yang bisa dikhususkan. Ini adalah yang dikuatkan oleh Syaikhul islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Utsaimin. (Lihat Tashilul Fara’idl hal : 48)
Adapun warisan saudara anak zina, maka sebagai berikut :
  1. Antara dia dengan saudara sebapak tidak saling mewarisi, karena tidak ada hubungan antara keduanya disebabkan hubungan dari jalur bapak terputus.
  2. Saudara seibu mewarisi bagiannya, sebagaimana dijelaskan oleh Alloh Ta’ala dalam surat An Nisa’ : 12
  3. Saudara kandung tidak mewarisi dengan bagian saudara kandung, namun mewarisi dengan bagian saudara se ibu, sampaipun kalau anak zina lahir kembar tetap warisannya dengan bagian saudara seibu karena keduanya tidak meiliki bapak. (Lihat Roudlotut Tholibin oleh Imam Nawawi 6/44)
Faedah :
Khilaf yang ada ini dengan catatan kalau anak zina tersebut tidak mempunyai ashobah sendiri seperti anak laki-laki atau cucu laki-laki dari anak laki-laki dan keturunan mereka. Adapun kalau dia mempunyai ashobah sendiri maka masalahnya menjadi jelas bahwa ibu  mendapatkan bagian sebagaimana yang tertera pada An Nisa : 12 dan sisanya untuk ashobahnya.
Wallahu a’lam

1 Li’an adalah seorang suami menuduh istrinya berzina tapi tidak bisa mendatangkan empat saksi dan istrinya pun tidak mau mengaku, maka keduanya di suruh bersumpah empat kali di hadapan qodli dan yang kelima laknat atau kemarahan Alloh ditimpakan bagi yang berbohong. Dan setelah itu dipisahkan antara keduanya selamanya dan anak yang dili’an dinasabkan pada ibunya. 2 Firasy adalah istri atau budak wanita, maka seorang anak yang dilahirkan oleh seorang wanita yang saat itu menjadi istri atau budak lelaki tertentu maka anak itu adalah anaknya. bagaimanapun bentuk dan keadaannya. Bisa seorang ayah mengingkarinya dengan jalan li’an (Lihat Al Majmu’ Imam Nawawi 19/47)
1 Jima’syubhah adalah jima’ yang terjadi karena kesalahan yang tidak sengaja. Mungkin antara suami istri yang dinikahkan dengan pernikahan yang bathil dan keduanya tidak tahu kalau pernikahannya bathil atau laki-laki yang menjima’I wanita yang disangkanya istrinya padahal bukan.
2 Imam Ibnul Qoyyim mengisyaratkan pada hadits Juraij dengan ibunya yang masyhur riwayat Bukhori 2482 dan Muslim 2550
3 Imam Ibnu Qoyyim di ikuti oleh Syaikh Al Albani mengingkari bahwa hal ini pernah diucapkan oleh Imam Syafi’I (Lihat I’lamul Muwaqi’in 1/47, Tahdzirus Sajid hal : 53)
1 Ashobah adalah keluarga dari jalur laki-laki, misal anak laki-laki serta keturunan mereka yang laki-laki, bapak serta bapaknya keatas, saudara kandung atau sebapak serta anak keturunan mereka kebawah yang laki-laki, paman dari jalur bapak serta anak keturunan mereka yang laki-laki.
www.ahmadsabiq.com