Kamis, 05 September 2013

Hadirillah Daurah Sangatta (September 2013) Bersama Syaikh Muhammad Abdul Latif Hafidhahullah Dari Yaman

0 Komentar
Hadirilah tabligh akbar bersama ulama yaman, syaikh Muhammad Abdul Latif hafidhahullah di sangatta, insyaAllah sabtu, tgl 7 september 2013 di Masjid An-Nur Swarga Bara.
Tabligh akbar sabtu nanti insyaAllah akan mengambil tema "Membina Keluarga Islami".
Tabligh Akbar Sangatta Kutim

Rabu, 28 Agustus 2013

Kajian Bersama Syaikh Muhammad Abdul Latif dari Yaman, Bontang September 2013

0 Komentar
HADIRILAH!!! 
Kajian bersama syaikh Abdul Latif dari Yaman. Beliau adalah murid dari syaikh muqbil dan syaikh Abul Hasan.

Kajian Ust. Zaenal Abidin di Balikpapan, 30 Ags – 1 Sept. 2013

0 Komentar
Jadwal Kegiatan Kajian Ust. Zaenal Abidin di Balikpapan, 30 Ags. – 1 Sept. 2013
 
JUM’AT, 30 AGUSTUS 2013
Waktu : Ba’da Maghrib - Selesai
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Istiqomah (Jl. Sport, Gn Dubs, Samping Lapangan Merdeka)
Tema : Badai Rumah Tangga Pasti Berlalu
 
SABTU, 31 AGUSTUS 2013

Waktu : 09.00 – Zhuhur
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Istiqomah (Jl. Sport, Gn Dubs, Samping Lapangan Merdeka)
Tema : Rumahku Taman Syurgaku
 
Waktu : Ba’da Maghrib - Selesai
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Baiturrahman (Balikpapan Regency Tahap II)
Tema : Pahala Berlimpah Para Pencari Nafkah
 
AHAD, 1 SEPTEMBER 2013
 
Waktu : Ba’da Shubuh - Selesai
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Istiqlal (Jl. Panorama, Samping Stadion Persiba)
Tema : Bijak Terhadap Ajaran Wali Songo
 
Waktu : 09.00 – Zhuhur
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Al-Imam An-Nasa’i (Jl. Syarifudin Yos, Depan Sepinggan Pratama)
Tema : Perjalanan Ruh Setelah Kematian.
 
SENIN, 2 SEPTEMBER 2013
 
Waktu : 08.00 –10.00 wita 
Peserta : Khusus Muslimah
Tempat : Pondokan Nadita (Jl. Marsma Iswahyudi, sebelah DHL Expedisi, dekat Bandara Sepinggan)
Tema : 
Membuat Suami Kangen Rumah

Tabligh Akbar Samarinda Bersama Ust. Badrusalam September 2013

1 Komentar
HADIRILAH TABLIGH AKBAR SAMARINDA

Pembicara: Ustadz Badrusalam Lc
(Pembina Radio Rodja/TV Rodja, Murid Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafidzahullah)


Tabligh Akbar Samarinda 2013
AGENDA :
Sabtu, 31 Agustus 2013

a. Waktu : 13.30 - selesai
Tempat : Masjid Islamic Center Samarinda
Tema : Membangun Rumah di Syurga

b. Waktu : Ba’da Maghrib - Selesai
Tempat : Masjid Agung Pelita
Tema : Amal Pembuka Rezeki

Ahad, 01 September 2013

a. Waktu : Ba’da Shubuh - Selesai
Tempat : Masjid Islamic Center Samarinda
Tema : Menangis Takut Kepada Allah

b. Waktu : 09.00 – 11.30
Tempat : Masjid Islamic Center Samarinda
Tema : Mereka yg diinginkan kebaikan oleh Alloh

c.Waktu : Ba’da Maghrib - Selesai
Tempat : masjid Fastabiqul khoirot ( air hitam )
Tematik

cp: Abu Ghoza: 08524796554
Anwar: 08979632261

Selasa, 10 Juli 2012

Dauroh dan Tabligh Akbar Padang Juli 2012 "Bila Hati Di Mabuk Cinta"

0 Komentar
Hadirilah  Daurah dan tabligh Akbar
bersama
Ustadz Hizbul Majid
(Alumnus Darul Hadits Negara Yaman, Da'i Kota Bontang, Kalimantan Timur)
 
Insya Allah akan diselenggarakan sebagai berikut:

"Bila Hati Di Mabuk Cinta - Diambil dari kitab Ad-Daa' Wa ad-Dawaa"
Hari: Jum'at-Sabtu, 13-14 Juli 2012
Pukul: 08.00 - 17.00
Tempat: Masjid Nurul Islam
Alamat: Jalan Surabaya, Kompleks Asratek, Ulak Karang, Padang
Catatan: Gratis Makalah untuk 300 peserta pertama

"Mendulang Pahala di Bulan Ramadhan"
Hari: Ahad, 15 Juli 2012
Pukul: 08.00 - 12.00
Tempat: Masjid Istiqomah
Alamat: Jalan H. Agus Salim (pertigaan lampu merah Sawahan, Padang)
Catatan: Gratis Buku panduan puasa untuk 300 peserta pertama

Informasi:
Genta - 085363081764
Yingki - 085669124362
Harqi - 085382651991






Penyelenggara:
Forsil (Forum Studi Islam Ilmiah Mahasiswa Sumatera Barat)

Jumat, 13 April 2012

Daurah Hikmah dalam Berdakwah Bersama Ustadz Abdullah Taslim (Balikpapan, 20-22 April 2012)

0 Komentar
BISMILLAH…..
H A D I R I L A H….
TABLIGH AKBAR ILMIYAH SYAR’IYAH
B e r s a m a:
Ustadz Abdullah Taslim, MA
(Magister Hadits Univ. Islam Madinah Saudi Arabia KSA)

InsyaAllah dengan Tema:
HIKMAH DALAM BERDAKWAH
(Perbedaan Antara Nasehat Dan Celaan)

Waktu dan tempat:
Ahad, 22 April 2012 Pukul 08.00 s.d. Dzuhur (dilanjutkan sesi tanya jawab ba’da Ashar) di masjid Istiqlal Pertamina Balikpapan (samping stadion Persiba)
Hadiri pula kajian beliau dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
- Hari Jum’at, 20 April 2012 di masjid Istiqamah Balikpapan ba’da sholat maghrib tema “Hubungan Keikhlasan Dalam Keberhasilan Menuntut Ilmu”
- Hari Sabtu, 21 April 2012 di masjid Istiqlal Balikpapan:
Ba’da shalat Subuh: “Beberapa Contoh Talbis Iblis”
Sabtu pagi Pukul 09.00 – 10.00 (khusus MUSLIMAH): “Wanita Ahli Surga” (saudariku inilah kemuliaanmu)
Ba’da sholat Maghrib: “Islam itu Al Qur’an dan Assunnah (Bukan yang Lain)”
Demikian informasi ini disampaikan, jazakallahu khairan wa barakallahu fiikum
Acara Ini Terselenggara atas kerjasama Forum Remaja Muslim Balikpapan (FORMIB) dengan DKM Masjid Istiqlal Pertamina Balikpapan
*info: 085247077334 (FORMIB) / 081952505875 (akh. Roiful Hadits)



Selasa, 03 April 2012

Hadirilah TABLIGH AKBAR Bersama Syaikh Muhammad Sa’id (Pimpinan Markaz Darul Hadits, kota IB – Yaman)

0 Komentar
BONTANG :Masjid Abu Bakr Ash Shiddiq, Pisangan Bontang
  • Kajian rutin          : Setiap hari Ba’da Maghrib ( tgl 03 s/d 19 April 2012 )
  • Kajian ummahat    : Setiap Selasa, Rabu, Kamis  ( jam 09.30 – 11.00 WITA )
Dauroh I
Sabtu, 07 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Tekad Tinggi Dalam Menuntut Ilmu
Dauroh II
Ahad, 08 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Konsep Bermuamalah Dengan Pemerintah
Dauroh III
Sabtu, 14 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Tujuh Golongan Yang Dinaungi Alloh Di Hari Kiamat
Dauroh IV
Ahad, 15 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Bahaya Hasad
BALIKPAPAN : Masjid Istiqomah
Dauroh I
Sabtu, 21 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Mengambil Ibroh Atas Wafatnya Rosululloh

Dauroh II
Ahad, 22 April 2012, Pukul : 08.30 – 12.00 WITA
Pokok – Pokok Ekonomi Islam
Penerjemah : Ust. Abu Ya’la dan Ust. Ainurreza Lc

Contact person
1. Bpk Rosiin ( 08125526103 / 085752817103 )
2. Ust. Abu Ya’la ( 087810100942 / 082110375445 )
3. Akhi Wahyudi Setiawan ( 085249721532 )
4. Bpk Afrizal ( 081347347259 ), untuk Balikpapan
Acara ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Pendidikan Ihyaussunnah Bontang dengan Forum Kajian An – Nasihah Bontang
Syaikh Muhammad Sa’id adalah murid Syaikh Muqbil dan Syaikh Abul Hasan As-Sulaimany beliau adalah pimpinan Darul Hadits di propinsi Ib Yaman.

Senin, 06 Februari 2012

Tabligh Akbar Februari 2012 Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

0 Komentar
Hadirilah TERBUKA UNTUK UMUM
Tabligh Akbar dan Safari Dakwah Bersama :
FADHILATUS SYAIKH Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al’Abbad Al Badr
(Dosen Ilmu Aqidah Program Pasca Sarjana, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia) Syaikh insyaAllah akan mengadakan safari dakwah di beberapa kota di P. jawa, diantaranya:


TABLIGH AKBAR DI MAGELANG
Penerjemah :
Ustadz Abdus Salam Busro, Lc.
Insya Allah akan diselenggarakan pada:
Hari: Selasa, 14 Februari 2012
Pukul: 12.30 – Ashar,
Tempat: Masjid Sa’ad bin Abi Waqos
Alamat: Belakang SMA Negeri 1 Salaman, Magelang
Islamic Centre Sa’ad bin Abi Waqos, Salaman, Magelang
Informasi:
Ustadz Muhammad Wujud Abu Ammar – 081 328 600 73
Prajoko, SH – 081 125 3010
Fuad Toto Suslio, SE – 087 834 237 464


TABLIGH AKBAR DI YOGYAKARTA
Hari/tgl :Rabu, 15 Februari/ 22 Rabiul Awwal 1433 H
Waktu : 08.00 – Dhuhur
Tempat : Islamic Centre Bin Baz
Jl. Wonosari KM 10, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta
Tema : Untaian Nasehat Untuk Umat
CP : 082135770347, 082135505903
Muslim.or.id
Penyelenggara : Islamic Centre Bin Baz
Disiarkan juga di radiomuslim.com


TABLIGH AKBAR DI SURABAYA DAN SIDOARJO
Penerjemah:
Ustadz Mubarok Bamu’alim, Lc.
insya Allah diselenggarakan pada:
Hari: Kamis, 23 Robi’ul Awwal 1433 H / 16 Februari 2012Pukul: 09.00 – 12.00
Tempat: LPI (Lembaga Pendidikan Islam) Sari Bumi
Alamat: Jalan Raya Lingkar Timur Km. 15 Bluru Sidoarjo
Pukul: Ba’da Maghrib s.d. selesai
Tempat: Kampus STAI Ali bin Abi Thalib
Alamat: SurabayaInformasi:
(031) 71856076, 085850322171



TABLIGH AKBAR DI GRESIK
Hadirilah Terbuka untuk umum!
insya Allah diselenggarakan pada:
Hari: Jumat, 24 Robi’ul Awwal 1433 H / 17 Februari 2012
Pukul : 08.30 – 15.00 WIB
Tempat : Masjid Jami’ Sulthon Az-Zakary PonPes Al-Furqon Al-Islami Sidayu Gresik Jatim
InsyaAllah khutbah jum’at bersama syaikh abdurrazaq al-badr.
Info : 081357907627
TABLIGH AKBAR DI MALANG
Insya Allah pada:
Hari : Sabtu
Tanggal : 25 Rabi’ul Awwal 1433 H/ 18 Februari 2012 M
Jam : 9.00 – Dhuhur
Tempat : Masjid An – Nur
Alamat : Jl. Jagalan Saleyer IC/7C (belakang Rumah Makan Cairo) – Malang.
Info : (0341) 336476 atau 081334183554
Kajian ini terbuka untuk umum bagi kaum muslimin dan muslimat, ajaklah seluruh keluarga,karib kerabat dan rekan-rekan anda.
Insya Allah LIVE di Radio Dakwah Islamiyah (RDI) FM 100.5
Bagi antum yang tidak bisa menangkap siaran Radio Dakwah Islamiyah insya Allah bisa mengikuti melalui raduo streaming di http://www.kajianislam.net/ atau melalui telpon Flexi ketik *55*571005

TABLIGH AKBAR DI JAKARTA
Dengan tema :
MENITI JALAN MERAIH KECINTAAN ALLAH TA’ALA
Waktu : Ahad, 26 Rabi’ul Awwal 1433 H/ 19 Februari 2012 M
Jam : 9.00 – dzuhur
Tempat : Masjid ISTIQLAL Jakarta Pusat
Info : (021) 8233661, (021) 70736543 , 08121055891
Kajian ini terbuka untuk umum bagi kaum muslimin dan muslimat, ajaklah seluruh keluarga,karib kerabat dan rekan-rekan anda.
Insya Allah LIVE di radio rodja 756 am dan rodja TV.


Sumber : www.kajiansalaf.com
HARAP DISEBARLUASKAN!

Kamis, 19 Januari 2012

Tabligh Akbar Kajian Ilmiah Samarinda 2012

0 Komentar
HADIRILAH!!!
Terbuka untuk UMUM Ikhwan dan Akhwat
Tabligh Akbar Kajian Islam
Bersama: Ust. Ainur Rofiq Gufron, Lc (Pimpinan Ponpes Al-Furqon Gresik Jatim). Beliau juga penasehat majalah islam Al-Furqon dan Al-Mawaddah.
Hari : Sabtu, tanggal 21 januari 2012 | 26 Safar 1433 H
Tempat : Masjid Al-Ma’ruf depan Mall Lembuswana Samarinda
Jam : 09.00 s/d 12.00 WITA
Masjid Al-Ma'ruf Samarinda
dan
Masjid Al-Mansyur
Jl. Dato Iba Sei Keledang Samarinda Seberang.
Jam : Ba’da magrib.
CP. Hendrana 081520903330

Disebarluaskan : www.kajiansalaf.com
Baarakallahu fiikum, Jazakumullahu khairan atas kunjungannya dan Semoga bermanfaat.

Kamis, 27 Oktober 2011

Dauroh AnNashihah ke-4 Oktober 2011

0 Komentar
Hadirillah Daurah Annashihah ke 4 yang akan dilaksanakan pada:
Hari sabtu-ahad, tanggal 29-30 Oktober 2011.
Pemateri : Al-Ustadz Abdurrahman dari Yayasan Ath-Thoifah al- Mansurah Balikpapan Kaltim. 
Tempat di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq Pisangan Bontang Kaltim.
Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di pamflet berikut:

Sabtu, 24 September 2011

Tabligh Akbar ust. Zainal Abidin Bontang September 2011

0 Komentar
HADIRILAH TABLIGH AKBAR UNTUK UMUM
Bersama Ust.Zaenal Abidin, Lc dari Jakarta


Agenda Kegiatan :
Jadwal Kegiatan Ust. Zainal Abidin Lc di Bontang, 16-18 September 2011

  • Jum'at, 16/9/11 Ba'da Maghrib : Tabligh Akbar "Membuka Kunci Rejeki" Masjid Al Furqon BTN PKT
  • Sabtu, 17/9/11 09.00-11.00 : "Hukum Meninggalkan Sholat" di Masjid Al Khoir Perumahan Bukit Sintuk
  • Sabtu, 17/9/11 14.00-15.30 : "Mendidik Anak dan Rahasia Menjadi Wanita Teladan" di Masjid Al Ittihad depan Rudal
  • Ahad, 18/9/2011 09.00-Dzuhur : "Ensiklopedi Penghujat Sunnah" di Masjid Abu Bakar Pisangan

-Kerjasama Majelis Ta'lim Indominco - An Nashihah-

Sabtu, 10 September 2011

Dauroh Akbar Samarinda 2011 Bersama Ustadz Abu Qatadah

0 Komentar
Hadirilillah Tabligh Akbar Kajian Islam Samarinda
Bersama : Ustadz Abu Qatadah dari Tasikmalaya Jawa Barat
Tempat : Masjid Al ma’ruf (VORFOO) Samarinda (depan Mall Lembuswana)
Tema:
  1. “Menggapai Kedudukan di Surga dengan Akhlak Mulia”
    Sabtu, 17 September 2011
    Pukul : 09.00 – 11.30 WITA
  2. “6 Pilar Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah”
    Ahad, 18 September 2011
    Pukul : 09.00 – 11.30 WITA
Jadwal dan tempat untuk kajian ba’da Maghrib dan ba’da Shubuh dapat menghubungi
  • CP :  Hendra Budisetia (085247965554)
  • CP :  Mukhlis (089688640102)
  • CP:   Hendrana (081520903330)
PENYELENGGARA : YAYASAN DAARUL ATSAR SAMARINDA DENGAN PONPES IHYAUSSUNNAH TASIKMALAYA


Baarakallahu fiikum, Jazakumullahu khairan atas kunjungannya dan Semoga bermanfaat.

Jumat, 05 Agustus 2011

Peran Serta Orang-Orang 'Ajam dalam Perjuangan Islam

0 Komentar
Segala puji milik Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya, dan kami berlindung dari kejelekan jiwa kami dan kejelekan amal kami, barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa disesatkan maka dia tidak akan memperoleh petunjuk. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya salawat dan salam senantiasa tercurahkan untuknya, amma ba’du:
Apabila kita menilik sejarah Islam dan merenunginya akan nampak jelas bagi kita  kesungguhan dan pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang muslim ‘Ajam (non Arab) semenjak munculnya fajar Islam sampai hari ini. Banyak sekali contoh-contoh yang menggambarkan keseriusan orang-orang ‘Ajam, kesabaran, dan pengorbanan mereka terhadap Islam, sehingga mereka pun menjadi tauladan bagi orang-orang muslim Arab dan menjadi tempat rujukan mereka.
Sesungguhnya peran yang penting dalam Islam tidak hanya didominasi oleh orang-orang Arab, bahkan banyak sekali contoh yang menunjukan bahwasanya orang-orang Islam dari kalangan ‘Ajam pun banyak berperan penting didalamnya.
Saya ingin memeberikan beberapa contoh dalam hal ini agar kita tahu betapa besarnya peran orang-orang muslim dari kalangan ‘Ajam bagi agama Islam ini sepanjang zaman.
Kita mulai dari zaman sahabat generasi pertama, yaitu kiasah seoarng sahabat yang mulia Salman al-Fârisî radiyallâhu’anhu sang pencari kebenaran”.
Dialah seorang sahabat yang telah berkelana dibumi bagian barat dan timur dalam rangka mencari nabi yang hak nabi Muhammad shallallâhu’alaihi wasallam.
Salman berasal dari negeri Persia[1] sebelah timur Jazirah Arab. Sunguh sahabat ini memiliki kisah yang sangat menakjubkan dalam kesungguhannya mencari kebenaran, yang mana hal ini menunjukan akan keseriusan dan kesungguhan seorang ‘Ajam di dalam mencari kebenaran walaupun melalui berbagai macam kesulitan dan aral rintangan.
Salman adalah seorang yang berasal dari kota Ashfahân[2] sedangkan ayahnya adalah pembesar dan orang yang ditokohkan dikalangan masyarakatnya. Keluarganya pun terhitung sebagai keluarga bangsawan.
Salman dan keluarganya dahulu beragama Majusi[3], bahkan Salman-lah yang bertugas sebagai penjaga apinya agar tetap menyala.
Suatu ketika bapaknya mengembankan tugas penting kepadanya sehingga ia harus keluar untuk melaksanakan tugas tersebut. Ketika beliau melakukan perjalanan beliau melewati gereja Nasrani dan mendengar suara orang yang sedang salat didalamnya sembari memperhatikan salat tersebut dengan seksama, maka Salman merasa takjub dengan ibadah yang mereka lakukan (yang mana menurut pandangannya ini lebih baik dari agamanya, kemudian Salman bertanya kepada mereka, “Dari manakah asal agama ini?” Mereka menjawab, “Dari negeri Syam.”
Maka setelah Salman pulang kerumah ia menceritakan hal ini kepada ayahnya, maka ayahnya pun merasa kaget dan khawatir kalau anaknya keluar dari agamanya (Majusi), sehingga Salman pun dikurung dirumahnya dan diikat kakinya.
Akan tetapi Salman mampu lolos dari kurungan tersebut, maka tatkala salman bertemu dengan sekelompok rombongan yang bertolak dari Ashfahân menuju Syam dan ikut bersama mereka dengan sembunyi-sembunyi. Dari sinilah sejarah mencatat suatu pengembaraan yang luar biasa dalam rangka mencari suatu kebenaran.
Sungguh suatu perjalanan yang dipenuhi dengan kesulitan dan kesusahan, namun itu semua rela ditempuh dalam rangka mencari kebenaran. Inilah gambaran dan keteguhan dari orang ‘Ajam dalam  mencari kebenaran.
Maka tatkala sampai dinegeri Syam Salman bertanya tentang orang yang paling alim tentang agama Nasrani di negeri tersebut, maka ditunjukanlah beliau kepada salah seorang Uskup gereja, salman pun mengikutinya dan berkhidmat kepadanya agar bisa belajar agama darinya. Akan tetapi ternyata uskup tersebut adalah seorang yangh jelek yang mana ia memerintahkan orang untuk bersedekah namun ia sendiri yang memakan sedakahnya, maka Salman pun membencinya. Maka tatkala uskup ini mati digantilah uskup lainnya yang mana penggantinya adalah orang yang baik maka Salman pun menyertainya dan selalu bersamanya, bahkan Salman mnganggap bahwa ia adalah orang yang paling zuhud. Maka tatkala uskup tersebut akan meninggal Salman pun berkata kepadanya, “Siapakah yang engkau wasiatkan untukku (dalam mempelajari agama Nasrani) sepeninggalmu?” Maka uskup tersebut menjawab, “Wahai anakku aku tidak mengetahui seorang pun melainkan si Fulan yang ada di Mausil [4] yang dia tidak merubah agamanya.”
Maka tatkala Uskup tersebut meninggal Salman pun mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan pengembaraannya yang baru dalam rangka mencari kebenaran.
Maka tatkala Salman sampai di Mausil bertemulah ia dengan uskup tersebut, kemudian Salman pun mendampinginya dan ia mendapati uskup tersebut adalah uskup yang sangat mulia.
Namun tidak lama kemudian uskup tersebut mengalami sakaratul maut, maka Salman pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang engkau wasiatkan untukku (dalam mempelajari agama Nasrani) sepeninggalmu?” Maka uskup tersebut menjawab, “Wahai anakku aku tidak mengetahui satu orang pun yang seperti apa yang kita anut kecuali si fulan yang ada di Nâshibîn[5] maka pergilah kepadanya.”
Maka Salman pun mempersiapkan dirinya untuk melakukan pengembaraan yang ketiga kalinya dalam mencari kebenaran hingga sampailah di kota Nâshibîn. Namun tidak lama kemudian uskup tersebut meninggal dunia. Sebelum meninggalnya uskup tersebut Salmanpun bertanya kepadanya seperti pertanyaan kepada uskup-uskup sebelumnya. Maka uskup tersebut mengarahkannya untuk menemui uskup lainnya yang ada di kota ‘Amûriya.[6]
Maka Salman pun mempersiapkan dirinya untuk melakukan pengembaraannya yang keempat dalam rangka mencari kebenaran. Kemudian bertemulah Salman dengan uskup tersebut dan senantiasa mendampinginya, namun tidak lama kemudian uskup tersebut pun meninggal dunia. Menjelang meninggalnya uskup tersebut  Salman pun bertanya kepadanya dengan pertanyaan seperti yang ditanyakan kepada uskup-uskup sebelumnya, maka uskup tersebut menjawab, “Wahai anakku demi Allah saya tidak mengetahui ada seorangpun yang beragama semisal dengan kita, sesungguhnya telah dekat zamannya akan keluar seorang nabi dari Arab yang akan membawa agama nabi Ibrahim ‘alaihissalâm yang lurus, kemudian ia berhijrah ke suatu tempat yang banyak pohon kurmanya, (nabi tersebut) memiliki beberapa tanda yang nampak…
  • Tidak mau memakan shadaqah.
  • Ia mau memakan hadiah .
  • Diantara kedua lengannya ada cincin kenabian.
Apabila engkau mampu untuk bertemu dengannya maka lakukanlah…   Tentulah hal itu mampu dilakukan oleh Salman yang telah berkali-kali melakukan  pengembaraan di berbagai penjuru dunia.
Kemudian Salman pun berjumpa dengan sekelompok pedagang dari Arab yang berada di ‘Amûria dan hendak pulang kenegerinya, maka Salman pun ikut bersama mereka, akan tetapi Salman dikhianati sehingga kemudian ia pun dijual ke seorang Yahudi dan dijadikan sebagai budak, disinilah Salman kembali mengalami musibah dan penderitaan lainnya dalam rangka mencari kebenaran, padahal dulunya ia adalah seorang bangsawan dan terkemuka dikalangan kaumnya.
Kemudian orang Yahudi tersebut menjualnya ke anak pamannya yang hidup dikota Yatsrib[7] maka berpindahlah Salman kekota tersebut dan disana ia melihat pohon kurma yang sangat banyak, maka Salman pun tahu bahwa itulah kota yang dimaksudkan oleh uskup dari ‘Amûria kepadanya yaitu tempat hijrahnya nabi tersebut.
Kemudian tidak lama kemudian nabi Muhammad shallallâhu’alaihi wasallam pun hijrah ke Madinah, dan sampailah berita itu kepada Salman yang nabi tersebut hijrah dari Makkah menuju Madinah dan mengajak untuk menyembah Allah semata. Maka bergetarlah badan Salman ketika mendengar hal tersebut.
Maka Salman pun hendak memastikan tiga tanda kenabian yang dikabarkan oleh uskup ‘Amuria kepadanya. Yaitu akan keluar seorang nabi dari negeri Arab dan memiliki tiga tanda:
  1. Ia tidak mau memakan sadaqah .
  2. Mau memakan hadiah.
  3. Diantara kedua lengannya ada cincin kenabian.
Maka diwaktu sore hari Salman pun mengambil korma  kemudian ingin disedekahkan kepada Nabi shallallâhu’alaihi wasallam yang mana ketika itu beliau ada di Quba, maka Salman pun berkata kepada beliau, “Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa engkau adalah seorang yang sholeh datang bersama saudara-saudaramu dari negeri yang jauh, oeh karena itu aku hendak menyedekahkan korma ini untuk kalian,” Maka nabi shallallâhu’alaihi wasallam pun bersabda kepada para sahabatnya, “Makanlah.” Namun beliau menahan diri dan tidak memakannya, maka Salman pun berbicara dalam hatinya, “Inilah tanda yang pertama.” Artinya telah terbukti tanda yang pertama. Yaitu Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak memakan sadaqah.
Kemudian Salman pergi dan mengumpulkan korma untuk dihadiahkan kepada Nabi shallallâhu’alaihi wasallam yang beliau telah berpindah dari Quba’ dan tinggal di Madinah. Kemudian Salman berkata kepada beliau shallallâhu’alaihi wasallam, “Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau tidak memakan shadaqah maka terimalah ini (korma) sebagai hadiah bagimu.. maka Rasulullah shallallâhu’alaihi wasallam pun memakannya dan memerintahkan para sahabatnya untuk memakannya.” Maka kemudian Salman pun berucap didalam hatinya, “Inilah yang kedua.”  Artinya telah nampak tanda yang kedua yaitu Nabi shallallahu’alaihi wasallam mau memakan hadiah.
Kemudian Salman kembali datang kepada Nabi shallallâhu’alaihi wasallam yang mana beliau ketika itu ada di Baqî’ Gharqad [8] yang mana Rasulullah ketika itu sedang menabur tanah di kuburan salah seorang sahabatnya yang meninggal, maka Salman pun melihat nabi sallallâhu’alaihi wasallam dalam keadaan duduk dengan mengenakan pakaian tebal. Salman pun mengucapkan salam kepadanya dan berusaha untuk melihat cincin kenabian di punggungnya seperti yang disifatkan oleh uskup dari ‘Amûria dahulu, maka nabi shallallâhu’alaihi wasallam mengetahui apa yang diinginkan Salman, maka nabi pun melepas selendang yang ada di punggungnya kemudian Salman pun melihat cincin kenabian di antara kedua lengannya maka Salman pun mencium Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan menangis. Sungguh ia telah menemukan hakekat kebenaran yang selama ini dia cari dan ia berkeliling ke bumi di bagian barat maupun timur karenanya.
Maka Nabi shallallâhu’alaihi wasallam pun merasa takjub dengan apa yang dilakukan oleh Salman kemudian beliau bertanya kepadanya, “Perihal apa yang ada padamu?” Maka Salman pun mengkisahkan pengembaraannya yang menakjubkan dalam rangka mencari kebenaran semenjak dari Ashfahan sampai detik itu. Maka Nabi shalallahu’alaihi wasallam pun merasa takjub dengan hal tersebut kemudian beliau meminta agar Salman mengkisahkan hal tersebut kepada para sahabatnya radiyallâhu’anhum dan para sahabat pun merasa takjub dan gembira dengan hal tersebut.[9]
Lihatlah bagaimana Salman tatkala mengkisahkan riwayat hidupnya dihadapan para sahabat hal itu adalah sebagai contoh dan tauladan bagi orang-orang Arab dan sebagai bentuk pengajaran bagi mereka.
Demikian juga di sana masih ada orang ‘Ajam lainnya yang menjadi contoh dan tauladan bagi kita, dialah Suhaib bin Sinân ar-Rûmî radiyallâhu’anhu.
Beliau hidup di lingkungan yang dipenuhi dengan maksiat, dan perbuatan-perbuatan yang keji, meskipun demikian hal itu tidaklah menghalanginya untuk melakukan suatu perbuatan yang mulia dan pengorbanan yang besar terhadap agama ini.
Suhaib berasal dari negeri Roma [10] hanya beliau adalah orang yang selamat fitrahnya di tengah masayarakatnya yang dipenuhi dengan berbagai macam perbuatan maksiat. Suhaib berkata, “Masyarakat yang seperti ini kondisinya lebih layak untuk mendapat musibah banjir besar”.
Suatu ketika ia mendengar tukang ramal dari kalangan Nasrani mengatakan, “Telah dekat masa kemunculan seorang nabi yang berasal dari Makkah di Jazirah Arab yang mana ia membenarkan risalah yang dibawa oleh nabi ‘Isa ‘alaihis sallâm serta misinya mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya yang terang”. Mendengar hal tersebut maka Suhaib pun merasa rindu bertemu dengan nabi tersebut dan meninggalkan negerinya yang penuh dengan kemungkaran.
Oleh karena itu sebagai renungan bagi kita bersama… betapapun banyaknya kemungkaran yang ada di negeri anda yang mana akhirnya anda sematalah yang berpegang dengan kebenaran…apabila anda memang memiliki niat yang ikhlas untuk menolong agama ini niscaya Allah akan menolong anda..
Kembali kepada kisah Suhaib..
Tatkala Suhaib telah meninggalkan negerinya yang penuh dengan kemungkaran dan sampai di kota Makkah, beliau bekerja sebagai pedagang hingga memperoleh kesuksesan dan keuntungan yang banyak dalam waktu yang singkat. Namun itu bukanlah tujuan utamanya karena tujuan utamanya datang ke Arab adalah untuk mencari kebenaran.
Pada suatu ketika sampailah kabar kepadanya munculnya seoarang nabi dari Makkah yang bernama Muhammad bin Abdillâh sallallâhu’alaihi wasallam yang mengajak untuk beriman kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, serta mengajak umat manusia untuk berbuat keadilan dan kebaikan dan melarang mereka dari kejelekan dan kemungkaran. Maka telah terbuktilah selama ini tentang apa yang dicari oleh Suhaib yaitu keluarnya nabi yang membawa cahaya keimanan dan tauhid.
Semenjak itulah Suhaib senantiasa memberikan sumbangsihnya kepada agama ini dan senantiasa bersabar dengan gangguan orang-orang kafir Quraisy. Lihatlah apa yang dilakukan oleh sahabat ‘Ajam ini sesuatu yang keluar dari kebanyakan logika manusia, keluar dari negerinya sendiri yang penuh dengan kenikmatan kemudian pergi ke negeri Makkah untuk bersyahadat walaupun gangguan dan intimidasi yang didapat?!
Dan hal menakjubkan lainnya dari sahabat yang berasal dari negeri non Arab ini, beliau adalah termasuk diantara sederetan para sahabat yang pertama kali masuk Islam, di saat banyak dari orang-orang Arab memeranginya.
Maka tatkala Rasulullah sallallâhu’alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah,  Suhaib ingin mememani Nabi sallallâhu’alaihi wasallam dan Abu Bakr radiyallâhu’anhu dalam perjalanan mereka, namun orang-orang kafir Quraisy mengawasi gelagat tersebut dan mengutus beberapa orang untuk menghalangi keluarnya Suhaib.
Sehingga Suhaib pun berfikir bagaimana caranya agar dapat mengelabui mereka sehingga bisa keluar dari Makkah untuk Hijrah ke Madinah.
Pada suatu malam yamg dingin ia keluar dari rumahnya menuju tempat buang hajat sementara orang-orang kafir Quraisy terus memperhatikannya, namun tidak lama kemudian Suhaib pun kembali ke rumahnya, kemudian ia keluar lagi dari rumahnya menuju tempat buang hajat namun tidak lama kemudian ia kembali lagi kerumahnya dan ini dilakukan berkali-kali, sehingga orang-orang kafir Quraisy yang mengawasinya mengira bahwasanya Suhaib sakit perut. Maka tidak lama kemudian orang-orang yang mengawasinya pun tertidur karena mengira dalam kondisi Suhaib yang seperti itu dia tidak akan mungkin bisa lari. Maka setelah para penjaga tadi tertidur Suhaib pun lolos dari intaian mereka dan berhasil keluar untuk hijrah ke Madinah. Akan tetapi Suhaib mengalami ujian lainnya yang mana para pengintai tadi mengetahui kepergian Suhaib kemudian mereka pun mengejarnya sehingga ia tertangkap.
Setelah itu orang-orang yang menangkapnya menjelaskan perihal mereka menghalangi keluarnya Suhaib dari Makkah dengan mengatakan, “Demi Allah kami tidak akan membiarkanmu keluar begitu saja dengan membawa harta padahal dahulunya engkau adalah seorang yang miskin dan tidak memiliki apa pun kemudian setelah itu engkau menjadi kaya raya.”
Maka jelaslah bahwa selama ini yang diincar oleh mereka dari Suhaib adalah harta, lalu bagaimanakah sikap Suhaib dalam melayani keinginan mereka terhadap hartanya?
Suhaib pun mengatakan, “Bagaimana menurut kalian kalau aku tinggalkan seluruh hartaku apakah kalian akan membiarkan aku pergi?” Mereka menjawab, “Iya.” Maka Suhaib pun menunjukinya tempat perbendaharaan hartanya di rumahnya yang ada di Makkah, sehingga Suhaib pun bisa pergi dengan leluasa untuk hijrah ke Madinah walaupun dengan resiko meninggalkan hartanya yang ia kumpulkan dengan  susah payah sepanjang hidupnya tanpa merasa sayang sedikit pun.
Maka tatkala Suhaib sampai di Madinah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melihatnya dari jauh yang mana Jibril telah memberitahukan kepada beliau tentang kisah Suhaib, maka tatkala Nabi shallallahu’alaihi wasallam melihatnya beliau bersabda,

رَبِحَ الْبَيعُ أَبَا يَحْيَى رَبِحَ الْبَيعُ أَبَا يَحْيَى
“Amat beruntunglah perniagaan Abu Yahya (suhaib), dan amat beruntunglah perniagaan Abu Yahya.”
Apakah keberuntungan yang di peroleh oleh Suhaib sementara hartanya telah di ambil seluruhnya? Keberuntungan itu tidak lain adalah keberuntungan akherat berupa sorga, meskipun ia di dunia telah rugi dengan meninggalkan harta dan keluarganya. Sungguh Allah Rabb semesta alam lah yang memberikan rekomendasi baginya berupa keberuntungan di akherat, sehingga hal tersebut diabadiakan dalam sebuah ayat yang terus dibaca sampai hari kiamat, yaitu firman Allah,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغاءَ مَرْضاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَؤُفٌ بِالْعِبادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”(Al-Baqarah:207)
Sungguh menakjubkan ayat ini turun berkaitan dengan sahabat yang ia bukan orang Arab, mudah-mudahan Allah senantiasa meridoi Suhaib ar-Rûmî dan dan mengumpulkan kita bersama di sorganya yang tinggi âmîn yâ Rabbal’âlamîn.[11]
Kemudian kita beralih kepada sahabat non Arab yang lainnya seorang sahabat yang sangat terkenal di kalangan orang-orang besar maupun kecil seorang sahabat yang memiliki pengorbanan yang besar terhadap agama ini, dialah Bilâl bin Rabâh radiyallâhu’anhu.
Hal ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita bahwa peran penting dalam agama ini yang dilakukan oleh para sahabat dari kalangan ‘Ajam tidak hanya dilakukan oleh sebagian orang saja atau dari sebagian negeri saja bahkan mereka berasal dari berbagai negeri. Perhatikanlah Salmân datang dari negeri Persia sebelah timur Jazirah Arab, Suhaib datang dari  Roma sebelah utara Jazirah Arab, dan Juga Bilâl yang datang dari negeri Habasyah yang sekarang ini lebih dikenal dengan Etiopia.
Sungguh sahabat Bilâl mengalami ujian yang luar biasa di awal-awal masa Islam walaupun begitu kerasnya siksaan yang mendera beliau namun beliau tetap mengucapkan “Ahad ahad” yang maknanya hanya Allah lah satu-satunya dzat yang berhak untuk diibadahi.
Diantara hal yang menunjukan keutamaan Bilâl bin Rabâh antara lain:
Dari Abdullah bin Mas’ûd berkata, “Ada tujuh orang yang pertama kali menampakkan keislamannya: Rasulullah shallallâhu’alaihi wasallam, Abu Bakr, ‘Ammâr bin Yâsir, ibunya Sumayyah, Suhaib, Bilâl, dan Miqdad.
Yang menjadi bahan renungan kita adalah diantara dua sahabat diatas yaitu Suhaib dan Bilal keduanya adalah orang non Arab yang mana keduanya dengan cepat menyambut seruan Islam.
Kemudian Ibnu Mas’ûd melanjutkan ucapannya, “Adapun Rasulullah maka dilindungi oleh pamannya Abu Thâlib, adapun Abu Bakr maka dilindungi oleh kaumnya, adapun yang selainnya maka mereka diberi pakaian dari besi kemudian di panaskan di terik matahari  sehingga karena terpaksa akhirnya menuruti keinginan orang-orang kafir tersebut (meskipun dalam hatinya tetap menyimpan keimanan), kecuali Bilal ia tetap teguh walaupun ia disiksa sampai diarak di hadapan anak-anak kecil ia tetap mengucapkan  “Ahad ahad”.
Perhatikanlah akan keteguhan sahabat yang satu ini ia tetap teguh meskipun dalam keadaan darurat dan dipaksa, yang mana para sahabat yang lainnya mengambil rukhshoh (keringanan) dengan berpura-pura kembali kepada kekufuran.
Namun perhatikanlah setelahnya yang mana Bilâl menjadi seorang yang mulia dan selalu dikenang oleh umat Islam yang mana Bilal mendapatkan penghargaan besar dari Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam menjadi Muadzin yang mengumandangkan adzan untuk shalat lima waktu. Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memerintahkannya untuk beradzan diatas Ka’bah ketika hari Fatkhu Makkah (pembukaan kota Makkah). Dan orang-orang Arab pun membelalakkan matanya kepada Bilal padahal sebelumnya Bilal adalah seorang budak yanmg tertindas.
Inilah beberapa gambaran tentang para sahabat yang mereka notabenenya orang-orang non Arab namun dengan keikhlasan dan keteguhan mereka Allah pun mengangkat derajat mereka didunia dan di akherat.

Kesungguhan Orang-orang ‘Ajam Dalam Ilmu Syar’i
Tidak hanya sebatas dalam keagamaan saja bahkan ada beberapa orang ‘Ajam yang memiliki peran sentral dalam ilmu syar’i dan penyebarannya setelah generasi para sahabat bahkan sampai masa kita sekarang.
○  Dalam Bidang Fiqih:
Kalau kita menilik sejarah fiqih dan para Fuqahâ’ (pakar dalam bidang Fiqih) kita akan dapati betapa banyaknya para Imam di dalam bidang Fiqih yang berasal dari negeri ‘Ajam, diantara yang paling masyhur adalah Imam Abu Hanifah an-Nu’man, imam madzhab hanafiyah yang sangat masyhur, yang mana berkata Imam Syafi’i tentang beliau,”Dalam permasalahan Fiqih kita semua menginduk kepada Abu Hanifah. Sungguh sejarahnya sangatlah harum dan terkenal, beliau bukan berasal dari negeri Arab akan tetapi berasal dari negeri Persia sebelah timur Jazirah Arab.
Demikian juga di belahan bumi bagian barat melahirkan seorang pakar Fiqih yang sangat terkenal dan terdepan di zamannya yaitu Ibnu Hazm al-Andalûsî, dari negeri Andalus.[12]
○  Dalam Bidang Hadits.
Apabila kita berbicara didalam bidang Hadits dan penghimpunannya kita dapati bahwasanya para ulama yang terdepan di dalam hal ini adalah orang-orang ‘Ajam. Kita banyak mendapati para ulama  yang menghimpun hadits-hadits shahîh dan menjaganya dari hadits-hadits dho’îf berasal dari negeri ‘Ajam. Diantara kitab Shahîh itu antara lain:
  1. Shahîh al-Bukhârî, yang ditulis oleh Imamnya ahli hadits Muhammad bin Isma’il al-Bukhârî dari Bukhârâ negeri ‘Ajam.
  2. Shahîh Muslim, yang ditulis oleh Imam Muslim dari Naisâbûr negeri ‘Ajam.
  3. Shahîh Ibnu Hibbân, yang ditulis oleh Imam Ibnu Hibbân dari Bust negeri ‘Ajam.
  4. Shahîh Ibnu Khuzaimah, yang ditulis oleh Imam Ibnu Khuzaimah dari Naisâbûr negeri ‘Ajam.
  5. Mustadrâk al-Hâkim, yang ditulis oleh Imam al-Hâkîm dari Naisâbûr negeri ‘Ajam.
Bila kita menilik para penilis Kitab-kitab sunan empat yang Masyhur kita akan dapati bahwasanya mereka seluruhnya adalah orang-orang ‘Ajam. Diantara kitab-kitab Sunan tersebut antara lain:
  1. Sunan Abî Dawûd, yang ditulis oleh Imam Abû Dâwûd dari Sijistân negeri ‘Ajam.
  2. Sunan an-Nasâ’î, yang ditulis oleh Imam an-Nasâ’î dari Nasâ negeri ‘Ajam.
  3. Sunan at-Tirmidzî, yang ditulis oleh Imam at-Tirmidzî dari Tirmidz negeri ‘Ajam.
  4. Sunan Ibnu Mâjah, yang ditulis oleh Imam Ibnu Mâjah dari Qazwain negeri ‘Ajam.
Ringkasnya bahwa penulis al-Kutub as-Sittah (enam kitab referinsi utama dalam bidang hadits) seluruhnya adalah orang-orang non Arab.
○ Didalam Bidang Ilmu Al- Jarh Wat Ta’dîl.[13]
Apabila kita menilik para pakar dalam bidang al-Jarh Wat Ta’dîl ini kita dapati banyak diantara oreang-orang ‘Ajam yang memiliki peran besar dalam  hal tersebut, diantaranya: al-Imam Ibnu Abi Hâtim ar-Râzî dari negeri Roi negeri ‘Ajam beliau memiliki karya tulis yang berjudul “Al-Jarh Wat Ta’dîl” beliau menghimpun didalam kitabnya tersebut perkataan ayahnya Imam Abu Hâtim ar-Râzî dan Imam Abu Zur’ah ar-Râzî dan para ulama yang lainnya dalam permasalahan periwayatan hadits. Kitab ini terhitung sebagai referinsi utama dalam bidang ini.
○ Dalam Bidang Tafsir Al-Qur’ânul Karîm
Apabila kita menilik para pakar dalam bidang Tafsir maka kita dapati bahwasanya para ulama dari kalangan ‘Ajam memiliki peran besar dalam bidang ini. Ambil contoh Imam Ibnu Jarîr ath-Thabarî  beliau berasal dari negeri Thabaristân beliau memiliki sebuah karya tulis monumental dalam bidang Tafsir yang menghimpun didalamnya  perkataan para sahabat, dan para Tabi’in disertai dengan sanad nya.
Contoh lainnya adalah Imam al-Qurthubi berasal dari kordoba salah satu kota yang ada di negeri Andalus (spanyol) memiliki sebuah karya tulis dalam bidang Tafsir yang luar biasa yang berjudul “Al-Jâmi’ Li Ahkâmil Qur’ân.”

○ Dalam Bidang Ushul Fiqih.
Diantara para ulama dari kalangan ‘Ajam yang mahir dalam bidang ini adalah Imam asy-Syairâzî penulis kitab “Al-Luma’” berasal dari kota Syairâz negeri ‘Ajam.
Demikian pula Imam ar-Râzî memiliki sebuah karya tulis dalam bidang ini yang berjudul “al-Mahshûl” dan para ulama yang lainnya.
○ Dalam Bidang Bahasa Arab.
Sungguh merupakan hal yang sangat menakjubkan bahkan dalam bidang bahasa Arab pun orang-orang ‘Ajam banyak mendominasinya bahkan banyak sekali para Imam dalam bidang ini berasal dari orang-orang ‘Ajam.
Diantara sederetan Imam tersebut antara lain:
  • Sibawaih pakar dan imam dalam bidang Nahwu dan bahasa berasal dari negeri Persia.
  • Al-Fairûz Ābâdi penulis Kitab “Al-Qâmûs al-Muhîth” salah satu kamus paling utama dalam bahasa Arab beliau bukan dari negeri Arab.
Bahkan salah seorang sejarawan Islam ternama Imam Ibnu Khaldûn memberikan sebuah faedahnya yang sangat berharga setelah beliau melakukan penelitian dan penelusuran mendalam beliau menyimpulkan bahwa mayoritas ulama Islam banyak didominasi orang-orang ‘Ajam dari pada orang-orang Arab.
Kemudian saya bawakan disini sebuah kisah menjelaskan bahwa orang-orang ‘Ajam mendominasi dunia ini disebabkan mereka berilmu dan menjaga agama Allah ta’ala.
Dari az-Zuhrî rahimahullâh berkata, “Berkata kepadaku Abdul Malik bin Marwân (khalifah ketika itu), “Dari mana saja engkau?” Aku menjawab, “Dari Makkah”, dia berkata, “Siapakah yang engkau jadikan referinsi bagi penduduknya (dalam Ilmu Syar’i)”, aku menjawab,” ’Athâ’”,  dia bertanya, “Apakah dia orang Arab atau bukan?”, aku menjawab, “Bukan”, dia bertanya, “Kenapa engkau jadikan ia sebagai referensi?”, aku menjawab, “Karena keteguhannya dalam beragama dan banyaknya riwayat hadits yang dihafal, dia berkata, “Seorang yang teguh dalam beragama dan banyak menghafal riwayat hadits mereka lebih utama untuk dijadikan referensi”. Dia berkata, “siapakah yang engkau jadikan referensi bagi penduduk Yaman”? Aku menjawab, “Thâwûs”, dia berkata, “Apakah dia orang Arab atau bukan?” aku menjawab, “Bukan.” Dia bertanya kembali, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Syam”? aku menjawab, “Makhul”, dia berkata, “Apakah dia orang Arab atau bukan?” aku menjawab, “Bukan dia adalah seorang hamba sahaya yang dimerdekakan oleh wanita dari Hudzail”. Dia berkata lagi, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Jazirah”? aku menjawab, “Maimûn bin Mihrân ia bukan dari Arab”. Dia bertanya lagi, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Khurasan”? aku menjawab, “Adh-Dhahhâk bin Muzâhim dia bukan orang Arab, Dia berkata, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Bashrah”? aku menjawab, “Al-Hasan dia bukan orang Arab”. Kemudian ia bertanya lagi, “Siapakah yang engkau jadikan referensi bagi penduduk Kuffah?” aku menjawab, “Ibrahim an-Nakha’I”.Ia bertanya, “Apakah ia dari Arab atau bukan?” aku menjawab, “dari Arab”.  Abdul Malaik bin Marwan berkata, “Aduhai engkau benar-benar mengagetkanku, apakah orang-orang non Arab itu akan berkhutbah diatas minbar sementara orang-orang Arab duduk mendengarkan dibawah mereka? Maka aku menjawab, “Wahai amirul mu’minin sesungguhnya ini adalah agama barang siapa yang mampu menjaganya ia akan menjadi tinggi, dan barangsiapa yang melalaikannya ia akan menjadi rendah.”
Bagi yang ingin mendapatkan faidah tambahan terkait dengan tema ini silahkan membaca kitab “al-Ansâb” karya al-Imam as-Sam’ânî yang mana beliau menyebutkan beberapa ulama terkemuka dari ‘Ajam didalam kitabnya ini, atau bisa juga membaca kitab “Mu’jamul Buldân” karya Yâqût al-Hamawî dengan melihat negeri-negeri ‘Ajam dan melihat beberapa ulama ternama dari negeri tersebut.

Kesungguhan Orang-Orang ‘Ajam Dalam Mencari Ilmu.
Ketahui lah wahai saudara ku sekalian bahwa derajat tinggi yang di raih oleh orang-orang muslim ‘Ajam dalam ilmu syar’i ini tidaklah diraih dengan hidup serba enak, bergelimang dengan kenikmatan, atau serba makan enak dan lezat, akan tetapi itu semua di raih dengan kerja keras, mengorbankan hal berharga yang ia miliki dalam rangka untuk mencari ilmu syar’i. Disini kami ingin membawakan sebuah kisah menakjubkan dalam mencari ilmu yang dilakukan salah seorang imam besar dari negeri ‘Ajam yaitu kisah Imam Baqî bin Makhlad rahimahullâh dari negeri Andalus.
Baqî bin Makhlad adalah seorang yang hidup dinegeri Andalus yang ketika itu adalah negeri Islam yanh ada di bumi bagian barat. Beliau memiliki inisiatif untuk melakukan perjalanan jauh menuju bumi Islam bagian timur yaitu negeri Baghdad dalam rangka untuk belajar kepada imam besar di zamannya yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, akan tetapi beliau adalah seorang yang faqir  tidak memiliki bekal untuk melakukan perjalanan kesana. Namun itu semua tidaklah memutuskan semangatnya agar dapat bergi ke Baghdad dalam rangka bertemu dengan Imam Ahmad rahimahullâh, walaupun kebanyakan perjalanannya kesana harus ditempuh dengan jalan kaki.
Mungkin anda bisa membayangkan wahai saudaraku bagaimana lelahnya perjalanan panjang tersebut perjalanan dari bumi barat menuju ke bumi bagian timur dalam rangka mencari ilmu.
Akan tetapi segala kesuliatan itu di tempuh oleh Baqî bin Makhlad agar bisa berjumpa dengan Imam Ahmad di Baghdad. Akan tetapi sesampainya di Baghdad beliau mengalami kesedihan yang luar biasa dikarenakan ketika itu kaum muslimin mendapatkan sebuah ujian yang luar biasa. [14] Sehingga imbasnya Imam Ahmad pun harus diisolir dari pergaulan masyarakat dan orang-orang dilarang belajar kepada Imam Ahmad. Akan tetapi meskipun demikian keadaannya Imam Baqî tetap bertekad untuk belajar dengan Imam Ahmad apapun resikonya.
Pergilah Imam Baqî menuju rumahnya Imam Ahmad kemudian ia mengetuk pintu rumahnya sembari berkata, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad) aku adalah seorang yang datang dari negeri yang jauh, aku baru pertama kalinya datang ke negeri ini, dan aku datang kepadamu untuk mengambil hadits darimu.” Kemudian berkata Imam Ahmad kepadanya, “Masuklah agar tidak ada orang lain yang melihat kita.
Kemudian Imam Ahmad pun menanyakan tentang daerah asalnya, maka Baqî menjawab bahwasanya ia berasal dari Andalus, kemudian Imam Ahmad berkata, “Sesungguhnya engkau datang dari negeri yang jauh dan pantas untuk aku layani (untuk belajar kepadanya)”, akan tetapi Imam Ahmad meminta udzur kepadanya karena ia dalam keadaan diisolir dan dilarang menyampaikan hadits dan pelajaran, serta dilarang berjumpa dengan siapapun dari penuntut ilmu dirumahnya.
Kemudian Imam Baqî menawarkan sebuah usulan cerdik  tatkala beliau beliau mengambil hadits dari Imam Ahmad, yaitu tatkala beliau datang kepada Imam Ahmad beliau datang dengan menyamar sebagai pengemis, maka ide ini kemudian disepakati oleh Imam Ahmad .
Maka tibalah saatnya datang Imam Baqî kepada Imam Ahmad dalam keadaan berpakaian seperti pengemis sembari berkata, “Berilah aku upah mudah-mudahan Allah memberimu ganjaran..” Maka kemudian Imam Ahmad mempersilahkannya untuk masuk kemudian beliau mencatat hadits dari Imam Ahmad satu hadits atau dua hadits saja agar tidak diketahuia oleh orang yang mengintai. Hal ini terus berjalan sampai terkumpul pada beliau kurang lebih sekitar tiga ratus hadits .
Kemudian hilanglah ujian yang menimpa Imam Ahmad dengan ijin Allah, sehingga beliau bisa kembali lagi mengajar dan mendikte hadits, maka beliau pun memuji Imam Baqî dihadapan murid-muridnya yang lain tentang keseriusan dan kesengguhan nya dalam menuntut ilmu.
Pada suatu ketika Imam Baqî jatuh sakit sehingga tidak bisa menghadiri majelis Imam Ahmad, kemudian datanglah Imam Ahmad menjenguknya. Maka terkejutlah orang-orang yang ada di sekitarnya setelah melihat kedatangan Imam Ahmad menjenguknya, sehingga setelah itu mereka mengetahui bahwa Imam Baqî adalah seorang yang mulia dan memiliki kedudukan dikarenakan imam Ahmad datang secara pribadi untuk menjenguknya. Setelah itu orang-orang yang ada di sekitarnya mengirimkan makanan, selimut, kasur, atau yang lainnya kepada Imam Baqî, sehingga berkata Imam Baqî, “Pelayanan mereka ketika aku sakit lebih banyak dari pada pelayanan yang diberikan oleh keluargaku ketika aku sakit.”
Mudah-mudahan Allah ta’âla merahmati beliau dengan rahmat yang luas, sungguh beliau telah mengerahkan kemampuan yang ada dalam rangka mencari ilmu.

Peran Kaum Muslimin ‘Ajam Dalam Jihad Fî Sabîlillâh.

Peran sentral Kaum muslim ‘Ajam tidak hanya sebatas pada bidang keilmuan saja, bahkan dalam hal jihad fî sabî lillâh untuk menjaga agama Allah pun mereka memiliki andil yang besar pula. Diantar mereka adalah Shalahuddîn al-Ayyûbî berasal dari Kurdi bukan orang Arab, beliaulah yang membebaskan tanah palestin dari penjajahan orang-orang salibis.
Demikian juga Saefuddîn Quthuz dari negeri Ashfahân yang mana ia berhasil mengusir pasukan tatar (Mongolia) dari negeri Islam dengin izin Allah ta’âla.
Allah telah menjaga agama Islam ini dengan prantaraan mereka dan orang-orang yang semil dengan mereka.
Ceramah ini tidak lain dalam rangka untuk menumbuhkan semangat kita bersama terutama orang-orang ‘Ajam (non Arab) untuk meniru para pendahulu mereka tersebut dalam rangka berkhidmat kepada Islam.
Apakah kita lupa atau tidak tahu siapakah pembaharu dan pakar dalam bidang hadits pada abad ini? Dia bukanlah orang Arab, dialah Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî rahimahullâh beliau berasal dari negeri Albania yang ada dibenua Eropa, sungguh keilmuan beliau telah membuat banyak orang-orang Arab mengambil faidah darinya.

Sebagai penutup:
Sudah tibalah saatnya bagi anda untuk berkhidmat kepada Islam ini…
Bulatkanlah tekad dari sekarang untuk berkhidmat bagi agama Islam ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu anda dari kalangan ‘Ajam ..bersiaplah untuk menghadapi rintangan dan kesulitan , atau menempuh perjalanan dalam rangka mencari ilmu seperti yang dilakukan oleh Salmân. Serta bersiaplah untuk berkorban dengan harta anda sebagaimana yang dilakukan oleh Suhaib. Atau bersabarlah sebagaimana sabarnya Bilâl.
Sudah saatnya lah bagi orang-orang ‘Ajam untuk berperan aktif dalam mencari ilmu dan menyebarkannya.
Apabila anda ingin menonjol dalam keilmuan Fiqih maka teladanilah orang-orang seperti Abu Hanîfah, Ibnu Hazm dan yang lain-lainnya, serta mulailah dari sekarang.
Dan apabila anda ingin menonjol dalam bidang Hadits maka teladanilah imam Bukhâri , serta mulailah dari sekarang.
Dan saya yakin para hadirin yang hadir merasa tergerak setelah mendengarkan ceramah ini untuk membulatkan tekadnya dalam rangka untuk berkhidmat demi kebangkitan umat ini. Walhamdulillahi Rabbil ‘âlamin.


Diadabtasi dari Ceramah di masjid Abu Bakr as-Siddîq Bontang disampaikan oleh Syaikh Dr. Syâdi bin Muhammad bin Nu’mân.
Pimpinan lembaga An-Nu’mân (lembaga di bidang penelitian manuskrip Islam)
Karya tulis beliau:
  1. Mausû’atul Al-Bânî 50 jilid. Sudah terbit 9 jilid tentang masalah Aqidah.
  2. Qadhôul Wathor syarah Nuzhatun Nadzar (3 jilid).
  3. Syarah Alfiyah As-suyûthî (1 jilid)
  4. At-Takmîl Fî JarhiWat Ta’dîl Ibni Katsîr. Dll.
Diambil dari : www.serambiyemen.com
[1] Sekarang ini adalah Negara Iran dan sekitarnya.
[2] Kota yang sekarang ini terletak di Iran tengah.
[3] Yaitu agama yang menyembah api dan matahari.
[4] Salah satu nama kota yang ada di Iraq.
[5] Kota yang ada di negeri Iraq.
[6] Kota yang terletak di Eropa timur.
[7] Yang sekarang ini dikenal dengan Madinah Munawwarah.
[8] Suatu tempat pekuburan yang ada di kota Madinah.
[9] Berkaitan dengan kisah Salman lihatlah literature berikut ini, Siyar min a’lâmin Nubalâ (1/362-405), dan Suwar min hayâtis shahâbah (hal 109-116).
[10] Yang sekarang ini masuk benua Eropa.
[11] Tentang biografi Suhaib bin Sinân ar-Rûmî radiyallahu’anhu silahkan dibaca literatur berikut ini: Al-Ishâbah (2/195) Suwar Min Hayâtish Shahâbah (hal 198-205).
[12] Sekarang ini adalah Spanyol.
[13] Ilmu yang mempelajari tentang kredibilitas seorang perawi dalam periwayatan haditsnya.
[14] Adanya intimidasi dan paksaan dari khalifah ketika itu untuk mengatakan aqidah yang terlarang yaitu Al-Qur’an adalah makhluq, sehingga diantara para ulama ketika itu yang diintimidasi, di penjara, dan mendapat siksa adalaha imam Ahmad bin Hanbal.

Kamis, 16 Desember 2010

Tabligh Akbar Samarinda

0 Komentar
Bismillah…
Insya Allah akan diadakan Daurah – Tabligh Akbar Samarinda selama 2 Hari
di Kota Samarinda (KALTIM)
Pemateri al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi
(Pengasuh Ma’had Al-Furqon Gresik Jawa Timur).
Hari : Sabtu dan ahad, 15-16 januari 2010
Jam : 08.30 – 12.00 WITA
Tempat : Masjid Al-Maruf Vorfoo
Info lebih lengkap bisa dilihat di pamflet

Rabu, 15 Desember 2010

Jalan-jalan Kebahagiaan

0 Komentar
Seandainya kita bertanya kepada orang-orang di sekeliling kita dari berbagai agama, bangsa, profesi dan status sosial tentang cita-cita mereka hidup di dunia ini tentu jawaban mereka sama “kami ingin bahagia”. Bahagia adalah keinginan dan cita-cita semua orang. Orang mukmin ingin bahagia demikian juga orang kafir pun ingin bahagia. Orang yang berprofesi sebagai pencuri pun ingin bahagia dengan profesinya. Melalui kegiatan menjual diri, seorang pelacur pun ingin bahagia. Meskipun semua orang ingin bahagia, mayoritas manusia tidak mengetahui bahagia yang sebenarnya dan tidak mengetahui cara untuk meraihnya. Meskipun ada sebagian orang merasa gembira dan suka cita saat hidup di dunia akan tetapi kecemasan, kegalauan dan penyesalan itu merusak suka ria yang dirasakan. Sehingga sebagian orang selalu merasakan kekhawatiran mengenai masa depan mereka. Terlebih lagi ketakutan terhadap kematian.

Allah berfirman dalam surat Al Jumu’ah ayat 8:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah: 8)
Banyak orang yang beranggapan bahwasanya orang-orang barat adalah orang-orang yang hebat. Mereka beranggapan bahwasanya orang-orang barat hidup penuh dengan kebahagiaan, ketenteraman dan ketenangan. Tetapi fakta berbicara lain, realita di lapangan menunjukkan bahwa secara umum orang-orang barat itu hidup penuh dengan penderitaan. Hal ini dikuatkan dengan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh orang-orang barat sendiri tentang kasus pembunuhan, bunuh diri dan berbagai tindakan kejahatan yang lainnya, namun ada sekelompok manusia yang memahami hakikat kebahagiaan bahkan mereka sudah menempuh jalan untuk mencapainya. Merekalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Mereka memandang kebahagiaan itu terdapat dalam sikap taat kepada Allah dan mendapat ridho-Nya, menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Boleh jadi di antara mereka yang tidak memiliki kebutuhan pokoknya setiap harinya, akan tetapi dia adalah seorang yang benar-benar bahagia dan bergembira bagaikan pemilik dunia dan segala isinya.
Allah berfirman,
قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya iti dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Jika mayoritas manusia kebingungan mengenai jalan yang harus ditempuh menuju bahagia maka hal ini tidak pernah dialami oleh seorang mukmin. Bagi seorang mukmin jalan kebahagiaan sudah terpampang jelas di hadapannya. Cita-cita agar mendapatkan kebahagiaan terbesar mendorongnya untuk menghadapi beragam kesulitan.
Terdapat berbagai keterangan dari wahyu Alloh sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman bahwasanya dirinya sudah berada di atas jalan yang benar dan tepat Allah berfirman:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’aam: 153)
Jika di antara kita yang bertanya bagaimanakah yang dirasakan bagi orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka maka Allah sudah memberikan jawaban dengan firman-Nya:
فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّمَاشَآءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّ مَاشَآءَ رَبُّكَ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ
“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Hud: 106-108)
Jika di antara kita yang bertanya-tanya bagaimanakah cara untuk menjadi orang yang berbahagia, maka Alloh sudah memberikan jawabannya dengan firman-Nya,
ٌّفَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَيَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha: 123-124)
Dan juga dalam firman-Nya,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Kebahagiaan seorang mukmin semakin bertambah ketika dia semakin dekat dengan Tuhannya, semakin ikhlas dan mengikuti petunjuk-Nya. Kebahagiaan seorang mukmin semakin berkurang jika hal-hal di atas makin berkurang dari dirinya.
Seorang mukmin sejati itu selalu merasakan ketenangan hati dan kenyamanan jiwa. Dia menyadari bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan kehendak-Nya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Inilah yang merupakan puncak dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan angka-angka tertentu dan tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun dolar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh seorang manusia dalam dirinya. Hati yang tenang, dada yang lapang dan jiwa yang tidak dirundung malang, itulah kebahagiaan. Bahagia itu muncul dari dalam diri seseorang dan tidak bisa didatangkan dari luar.
Tanda Kebahagiaan
Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa tanda kebahagiaan itu ada 3 hal. 3 hal tersebut adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Beliau mengatakan: sesungguhnya 3 hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat. Seorang hamba sama sekali tidak pernah bisa terlepas dari 3 hal tersebut:
1. Syukur ketika mendapatkan nikmat.
Seorang manusia selalu berada dalam nikmat-nikmat Allah. Meskipun demikian, ternyata hanya orang berimanlah yang menyadari adanya nikmat-nikmat tersebut dan merasa bahagia dengannya. Karena hanya merekalah yang mensyukuri nikmat, mengakui adanya nikmat dan menyanjung Zat yang menganugerahkannya. Syukur dibangun di atas 5 prinsip pokok:
  1. Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang memberi nikmat.
  2. Rasa cinta terhadap yang memberi nikmat.
  3. Mengakui adanya nikmat yang diberikan.
  4. Memuji orang yang memberi nikmat karena nikmat yang dia berikan.
  5. Tidak menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak disukai oleh yang memberi nikmat.
Siapa saja yang menjalankan lima prinsip di atas akan merasakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika lima prinsip di atas tidak dilaksanakan dengan sempurna maka akan menyebabkan kesengsaraan selamanya.
2. Sabar ketika mendapat cobaan.
Dalam hidup ini di samping ada nikmat yang harus disyukuri, juga ada berbagai ujian dari Allah dan kita wajib bersabar ketika menghadapinya. Ada tiga rukun sabar yang harus dipenuhi supaya kita bisa disebut orang yang benar-benar bersabar.
  1. Menahan hati untuk tidak merasa marah terhadap ketentuan Allah.
  2. Menahan lisan untuk tidak mengadu kepada makhluk.
  3. Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak di benarkan ketika terjadi musibah, seperti menampar pipi, merobek baju dan sebagainya.
Inilah tiga rukun kesabaran, jika kita mampu melaksanakannya dengan benar maka cobaan akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.
3. Bertaubat ketika melakukan kesalahan.
Jika Allah menghendaki seorang hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat, maka Allah akan memberikan taufik kepada dirinya untuk bertaubat, merendahkan diri di hadapan-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan yang mampu untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, ada seorang ulama salaf mengatakan: “Ada seorang yang berbuat maksiat tetapi malah menjadi sebab orang tersebut masuk surga. Ada juga orang yang berbuat kebaikan namun menjadi sebab masuk neraka.” Banyak orang bertanya kepada beliau, bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?, lantas beliau menjelaskan: “Ada seorang yang berbuat dosa, lalu dosa tersebut selalu terbayang dalam benaknya. Dia selalu menangis, menyesal dan malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hatinya selalu sedih karena memikirkan dosa-dosa tersebut. Dosa seperti inilah yang menyebabkan seseorang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dosa seperti itu lebih bermanfaat dari berbagai bentuk ketaatan, Karena dosa tersebut menimbulkan berbagai hal yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Sebaliknya ada juga yang berbuat kebaikan, akan tetapi kebaikan ini selalu dia sebut-sebut di hadapan Allah. Orang tersebut akhirnya menjadi sombong dan mengagumi dirinya sendiri disebabkan kebaikan yang dia lakukan. Orang tersebut selalu mengatakan ’saya sudah berbuat demikian dan demikian’. Ternyata kebaikan yang dia kerjakan menyebabkan timbulnya ‘ujub, sombong, membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Hal-hal ini merupakan sebab kesengsaraan seorang hamba. Jika Allah masih menginginkan kebaikan orang tersebut, maka Allah akan memberikan cobaan kepada orang tersebut untuk menghilangkan kesombongan yang ada pada dirinya. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki kebaikan pada orang tersebut, maka Allah biarkan orang tersebut terus menerus pada kesombongan dan ‘ujub. Jika ini terjadi, maka kehancuran sudah berada di hadapan mata.”
Al Hasan al-Bashri mengatakan, “Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam tiga hal, dalam sholat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan maka itulah yang diinginkan, jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu.”
Malik bin Dinar mengatakan, “Tidak ada kelezatan selezat mengingat Allah.”
Ada ulama salaf yang mengatakan, “Pada malam hari orang-orang gemar sholat malam itu merasakan kelezatan yang lebih daripada kelezatan yang dirasakan oleh orang yang bergelimang dalam hal yang sia-sia. Seandainya bukan karena adanya waktu malam tentu aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini.”
Ulama’ salaf yang lain mengatakan, “Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa sholat malam selama setahun lamanya dan aku bisa melihat usahaku ini yaitu mudah bangun malam selama 20 tahun lamanya.”
Ulama salaf yang lain mengatakan, “Sejak 40 tahun lamanya aku merasakan tidak ada yang mengganggu perasaanku melainkan berakhirnya waktu malam dengan terbitnya fajar.”
Ibrahim bin Adham mengatakan, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.” Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.”
Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.’” Wallahu a’laam.
(Diterjemahkan dengan bebas dari As Sa’adah, Haqiqatuha shuwaruha wa asbabu tah-shiliha, cet. Dar. Al Wathan)
(Makalah Studi Islam Intensif 2005)
***
Disusun oleh: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

Kamis, 22 Juli 2010

Dauroh Bedah Buku Bontang Kaltim 2010

0 Komentar
Alhamdulillah. Forum Kajian Islam Intensif kembali mengadakan kajian umum dengan tema Bedah Buku Bersama Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary dan Ustadzah Ummu Ihsan Al-Atsary. 
Tempat : Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq Lantai 2 Yayasan Ihyaussunnah Pisangan Bontang.
Agenda acara sebagai berikut:
1. Bedah buku 1 " Surat Terbuka untuk Para Istri" (KHUSUS AKHWAT) oleh Penulis Buku : Ustadzah Ummu Ihsan Al-Atsary. Waktu: Hari Jum'at, 6 Agustus 2010 Jam: 08.30 - 11.00 WITA.
2. Bedah buku 2 " Surat Terbuka untuk ParaSuami" (UNTUK UMUM) oleh Penulis Buku : Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary. Waktu: Hari Jum'at, 6 Agustus 2010 Jam:Ba'da Shalat Magrib.
3. Bedah buku 3 " Panduan Amal Sehari Semalam" (UNTUK UMUM) oleh Penulis Buku : Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary. Waktu: Hari Sabtu, 7 Agustus 2010 Jam: 08.30WITA - dhuhur.
4. Bedah buku 4 " Mencetak Generasi Rabbani" (UNTUK UMUM) oleh Penulis Buku : Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary. Waktu: Hari Ahad, 8 Agustus 2010 Jam: 08.30WITA - dhuhur.


Untuk download pamflet, silahkan klik gambar diatas.

Rabu, 05 Mei 2010

JUAL BELI KREDIT

0 Komentar
oleh : Ahmad sabiq Abu Yusuf

Di antara persoalan penting namun kurang diperhatikan oleh kalangan umat islam baik yang pintar apalagi yang awam adalah masalah halal dan haram serta syubuhat saat mencari rizqi. Padahal masalah ini adalah masalah yang sangat ditegaskan oleh Alloh Ta’ala, Rosululloh dan para ulama’ salaf. Masalah ini juga sangat erat hubungannya dengan amal perbuatan, diterimanya do’a dan lain sebagainya.
Dari Abu Huroiroh berkata :
“Rosululloh bersabda :

إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا و إن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال :

“Sesungguhnya Alloh itu Maha baik dan hanya menerima yang baik-baik saja. Sesungguhnya Alloh memerintahkan kaum mu’minin sebagaimana Alloh memerintahkan para rosul :
“Wahai para rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang sholeh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al Mu’minun : 51)
Alloh juga berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.”
(QS. Al Baqoroh : 172)
Kemudian Rosululloh menyebutkan kisah seorang laki-laki yang berambut kusut, penuh debu, menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata : “Ya Robbi, Ya Robbi.” Namun makanannya haram. Minumannya haram dan tumbuh dari makanan yang haram, bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan ?.” (HR. Muslim 1015, Turmudli 2989, Ad Darimi 2817)
Jual beli sistem kredit datang menyeruak diantara segala sistem bisnis yang ada. Sistem ini mulai diminati banyak kalangan, karena rata-rata manusia itu kalangan menengah ke bawah, yang mana kadang-kadang mereka terdesak untuk membeli barang tertentu yang tidak bisa dia beli dengan kontan, maka kredit adalah pilihan yang mungkin dirasa tepat. Namun ada sebuah pertanyaan besar yang muncul, yaitu apa hukum jual beli kredit secara islam, halalkah atau haram ? kalau halal lalu bagaimana aturannya dan kode etiknya baik bagi penjual maupun bagi pembeli ?
Inilah yang ingin saya bahas pada tulisan ini, saya mohon kepada Alloh agar memberi petunjuk kepada kita semua agar semua kreatiftas kita agar sesuai dengan jalan Nya. Amin

Minggu, 02 Mei 2010

MUSIBAH ADALAH UJIAN BAGI SETIAP MUKMIN

1 Komentar

Oleh Abu Ahmad Fuad Hamzah Baraba`, Lc.
Segala puji dan syukur hanya milik Allah Ta’ala yang telah berfirman dalamm kitab-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-Baqarah: 155-157), shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang telah diuji oleh Allah U dengan berbagai macam ujian, namun beliau selalu bersabar dan bersyukur, serta para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Tidak samar bagi setiap orang, bahwasanya dalam kehidupan dunia ini tidak lepas dari ujian dan cobaan, serta musibah yang menimpa kita. Setiap mukmin pasti akan menghadapi berbagai macam ujian, karena Allah ta’ala tidak akan membiarkan begitu saja orang yang mengaku dirinya beriman tanpa adanya ujian. Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Ankabut:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ  وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. al-Ankabut: 2-3)
Ya, kita semua berada dalam ruang ujian yang besar, ujian dalam kehidupan dunia. Semua yang ada padanya adalah ujian dan cobaan. Harta, anak dan istri, kekayaan dan kemiskinan serta kesehatan dan penyakit adalah ujian, dan kita akan diuji pada setiap apa yang kita miliki.
Allah ta’ala berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. al-Anbiya`: 35)
Namun apa pun ujian dan cobaan yang menimpa kita, maka itulah yang terbaik, apabila kita bersyukur terhadap nikmat-Nya dan bersabar atas cobaan-Nya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh unik perkaranya orang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya baik, dan itu tidaklah dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Apabila ia diberi nikmat, ia bersyukur, dan ini baik baginya dan apabila ditimpa musibah, dia bersabar, dan ini baik pula baginya.” (HR. Muslim)
Dan hendaknya kita yakin akan takdir Allah, baik dan buruknya. Karena ini merupakan hal yang penting sekali bagi seseorang yang ditimpa musibah. Ketika dia yakin, insya Allah musibah itu akan terasa ringan bagi kita. Oleh karena itu, kita harus yakin sesungguhnya segala cobaan dan musibah yang menimpa kita tidak lepas dari takdir Allah.
Allah ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid: 22-23)
Beberapa hikmah dan pelajaran dari musibah yang menimpa kita:
1.   Dalam musibah ada pelajaran tauhid, keimanan dan tawakal. Bukankah kita jadi mengetahui bahwa kita adalah hamba yang lemah dan tidak memiliki daya atau upaya, kecuali hanya dari Allah semata, maka bertawakallah hanya kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, serta kembali kepada-Nya karena Allah Maha Mampu dalam segala hal. Kita hanyalah hamba yang lemah dan dhaif, maka kembalilah kepada yang Maha Perkasa lagi Maha Berkuasa.
2.   Dengan adanya musibah kita menjadi tahu akan hakekat dunia dan berbagai macam tipu daya yang ada di dalamnya. Karena kehidupan yang sempurna hanya ada di akhirat.
Allah ta’ala berfirman:
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS. al-Ankabut: 64)
3.   Musibah mengingatkan kita akan karunia dan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita, dalam bentuk kesehatan. Dengan adanya musibah ini merupakan penjelasan yang gamblang dan sangat jelas sekali akan makna nikmatnya sehat, dimana kita merasakan sehat selama bertahun-tahun, tapi kita lalai akan hal itu, tatkala dengan tiba-tiba nikmat sehat itu hilang kita baru sadar akan nikmatnya sehat. Betulah apa yang dikatakan seseorang:
الصحة تاج على رؤوس الأصحاء لا يراه إلا المرضى
“Kesehatan bagai mahkota yang ada di atas kepala orang-orang yang sehat, yang tidak dilihat kecuali oleh orang-orang yang sakit”.
4.   Musibah merupakan peringatan bagi kita, supaya kita tidak terlalu gembira yang berlebihan dan tidak mudah berputus asa.
Allah Ta’ala berfirman:
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid: 22-23)
5.   Musibah dapat mengingatkan aib diri kita, agar kita dapat bertaubat dari dosa-dosa.
Allah Ta’ala berfirman:
مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً وَكَفَى بِاللّهِ شَهِيداً
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS. an-Nisa`: 79)
Dan juga firman-Nya:
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. asy-Syura: 30)
Bahkan dengan adanya musibah, ini merupakan kesempatan untuk bertaubat sebelum diturunkannya adzab yang lebih besar, dimana Allah ta’ala berfirman:
Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azhab yang dekat (di dunia) sebelum azhab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. as-Sajdah: 21)
6.   Musibah bisa melatih kesabaran. Bukankah kita butuh kesabaran dalam segala hal? Kita tidak akan dapat teguh di atas al-haq kecuali dengan bersabar dalam mentaati Allah, kita tidak akan dapat menjauhi kebatilan kecuali dengan cara sabar untuk tidak bermaksiat kepada Allah. Alangkah indahnya kesabaran itu, dan kesabaran adalah bekal yang dapat mengantarkan ke surga yang penuh dengan keabadian.
Allah ta’ala berfirman:
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (QS. Fushshilat: 35)
Dan akhirnya, mudah-mudahan kita dapat memperoleh pahala dari musibah yang ada, dimana tak ada jalan untuk memperoleh pahala kecuali dengan kesabaran dan tak ada kesabaran kecuali dengan keinginan yang tulus dan penuh keyakinan. Allahu Ta’ala a’lam.

by abu salma (www.abusalma.wordpress.com)